KALIMANTAN UTARA — Jakarta — Sejumlah organisasi pemuda yang tergabung dalam Climate Rangers Jakarta dan Koalisi Danantara Monitor menggelar aksi simbolik di depan Gedung Danantara, Jakarta, Kamis (10/9/2026). Mereka membawa uang kertas mainan, kostum pejabat, dan logo "D" Danantara berukuran besar yang diubah menyerupai PLTU batu bara.
Aksi bertajuk "Danantara: Investor Energi Kotor" itu menyoroti arah investasi badan pengelola aset BUMN tersebut. Danantara diketahui mengelola aset senilai ratusan triliun rupiah, dan keputusan investasinya dinilai akan menentukan kualitas lingkungan serta ruang hidup generasi muda ke depan.
Kekhawatiran pada Proyek Batu Bara dan Smelter
Dalam aksi tersebut, massa menyoroti keterlibatan investasi dan pembiayaan Danantara pada sejumlah proyek batu bara dan energi fosil. Proyek yang disorot antara lain pengembangan coal-to-DME (DME) serta sejumlah smelter yang membutuhkan pasokan energi besar.
Arah investasi semacam ini dinilai berisiko memperpanjang ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Selain itu, muncul kekhawatiran terjadinya carbon lock-in dalam jangka panjang, yakni kondisi ketika infrastruktur dan kebijakan sudah terlanjur terikat pada teknologi beremisi tinggi sehingga sulit beralih ke energi bersih.
Massa aksi juga menyirami logo "D" Danantara dengan cat air hitam sebagai simbol limbah industri. Mereka menilai proyek-proyek fosil yang didukung Danantara berpotensi mencemari lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar.
Suara Generasi Muda dan Keadilan Antargenerasi
Campaigner Climate Rangers Jakarta, Rendy Dharmawansyah, menyoroti pengabaian negara terhadap generasi muda dalam fokus pembangunan dan dampak lingkungan. Ia menilai sebagian besar aset yang dikelola Danantara mengalir ke sektor ekstraktif dan proyek pertambangan strategis.
"Dari sekian ratus triliun rupiah aset yang dikelola dan diinvestasikan oleh Danantara, sebagian besar masuk ke sektor ekstraktif, masuk ke proyek-proyek strategis pertambangan, masuk ke kantong-kantong korporasi yang merusak lingkungan," ujar Rendy.
Ia menambahkan, masyarakat sekitar proyek pembangunan hanya menerima dampak buruk dari lingkungan yang tercemar. Menurutnya, Danantara belum memperhatikan keadilan antargenerasi dan justru membebani orang muda sebagai pemilik masa depan.
Hal senada disampaikan Ramadhan dari Enter Nusantara. Ia menekankan bahwa keterlibatan anak muda tidak boleh berhenti pada ruang konsultasi atau kampanye semata.
"Kami membutuhkan adanya transparansi dan akses terhadap informasi serta partisipasi mengenai bagaimana uang negara diinvestasikan," ujar Ramadhan.
Menurutnya, suara generasi muda harus menjadi bagian dari pertimbangan ketika keputusan investasi berpotensi memperpanjang ketergantungan pada energi fosil.
Dorongan Transparansi dan Partisipasi Publik
Climate Rangers Jakarta dan Koalisi Danantara Monitor mendorong pengelolaan investasi negara dilakukan secara transparan, akuntabel, dan membuka ruang partisipasi publik yang bermakna. Mereka menilai transparansi menjadi kunci karena keputusan investasi hari ini akan berdampak jangka panjang pada perekonomian dan lingkungan.
Bagi orang muda, mengawal Danantara berarti mengawal keputusan yang menentukan masa depan mereka sendiri. Aksi ini menegaskan bahwa generasi muda tidak ingin sekadar menjadi penonton, melainkan pihak yang turut menentukan arah pembangunan yang akan mereka warisi.