TARAKAN — Rencana pengembangan sentra ayam petelur di Kalimantan Utara tidak bisa berjalan sendiri. Ketua Komisi III DPRD Kaltara Jufri Budiman menegaskan, program ini harus dirancang sebagai satu ekosistem utuh yang mencakup lahan, produksi jagung sebagai bahan pakan, hingga jaringan distribusi telur.
Menurutnya, tidak semua kabupaten/kota di Kaltara cocok dijadikan lokasi peternakan. Karena itu, ia mengusulkan pendekatan berbasis potensi wilayah. Daerah yang dinilai layak diarahkan menjadi pusat produksi telur, sementara wilayah lain diperkuat sebagai lumbung jagung dan pemasok bahan baku pakan.
“Jadi masing-masing wilayah kita lihat potensinya. Kalau memang cocok untuk peternakan ayam petelur, kita jadikan sentra. Daerah lainnya bisa kita dorong untuk jagung dan kebutuhan pakannya,” ujarnya, Minggu (6/9).
Kebutuhan 25 Ribu Ton Telur dan Target Populasi Ayam
Kebutuhan telur di Kaltara diperkirakan mencapai sekitar 25 ribu ton per tahun. Untuk menutup celah produksi tersebut, Jufri menghitung perlu ada tambahan populasi ayam petelur kurang lebih 1,2 juta ekor. Namun, ia menekankan penambahan ini harus dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus.
“Target kita sekitar 1,2 juta ekor ayam petelur secara bertahap,” pungkasnya.
Alasan penahapan ini berkaitan erat dengan kesiapan peternak lokal dan ketersediaan pakan. Jika populasi ayam dipaksa naik drastis sementara jagung masih didatangkan dari luar Kaltara, Jufri menilai biaya produksi justru akan membengkak dan membuat harga telur lokal tidak kompetitif.
Program Makan Bergizi Gratis Jadi Pemicu Percepatan Produksi Lokal
Dorongan untuk membangun kemandirian pangan ini tidak lepas dari rencana pemerintah pusat menggelar program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program strategis tersebut membutuhkan pasokan telur dalam jumlah besar dan rutin setiap harinya.
Jufri menilai ketergantungan pada pasokan dari luar daerah menjadi risiko besar ketika program sebesar itu berjalan. Gangguan distribusi atau lonjakan biaya logistik bisa langsung mengganggu kelancaran penyediaan pangan.
“Tidak bisa kita terus mengandalkan pasokan luar, apalagi untuk mendukung program strategis Presiden yaitu Makan Bergizi Gratis,” tegasnya.
Harga Pakan Faktor Kunci Agar Peternak Lokal Bertahan
Persoalan pakan selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi peternak ayam petelur di Kaltara. Sebagian besar bahan baku masih harus didatangkan dari luar provinsi, sehingga fluktuasi harga jagung di daerah lain ikut menentukan untung rugi peternak lokal.
Jufri menegaskan, penguatan sektor pertanian sebagai pemasok jagung menjadi prasyarat utama sebelum populasi ayam ditambah. Tanpa jaminan ketersediaan pakan, peningkatan jumlah ayam hanya akan menaikkan beban operasional peternak dan berujung pada kenaikan harga telur di pasar.
Ia berharap pemerintah daerah tidak melihat pengembangan ayam petelur sebagai proyek terpisah, melainkan bagian dari rantai pangan yang saling terhubung. Dengan pola terintegrasi ini, produksi telur lokal diharapkan mampu memenuhi kebutuhan warga Kaltara sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi peternak dan pelaku usaha di daerah.