KALIMANTAN UTARA — PT Bukit Asam (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp2,65 triliun pada semester I 2026, tumbuh 218 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Manajemen PTBA kini menelaah opsi pembelian kembali saham (buyback) untuk menjaga nilai perusahaan di tengah fluktuasi pasar modal. Kajian buyback muncul saat pendapatan perseroan naik 8 persen menjadi Rp22,03 triliun.
PTBA menilai langkah korporasi perlu disiapkan menghadapi tekanan pasar saham domestik maupun global. Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menyatakan perseroan memantau perkembangan makroekonomi, arah industri energi, dan pergerakan pasar modal secara saksama. Kajian buyback disebut sebagai salah satu opsi strategis yang sedang ditimbang.
Alasan Buyback Masuk Kajian Manajemen
Eko menegaskan pembelian kembali saham bukan keputusan yang diambil tergesa-gesa. Setiap opsi akan dievaluasi dengan prinsip kehati-hatian, tata kelola perusahaan yang baik, dan kerangka regulasi yang berlaku.
"Kami memahami pentingnya merespons dinamika pasar secara bijak. Saat ini, Manajemen PTBA tengah melakukan kajian mendalam atas berbagai opsi strategis, termasuk potensi buyback saham," ujar Eko dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2026).
Lewat kajian tersebut, PTBA berupaya menjaga stabilitas nilai perusahaan sekaligus memberi perlindungan dan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham serta pemangku kepentingan.
Laba Semester I 2026 Tumbuh 218 Persen
Rencana korporasi itu bertumpu pada fundamental yang solid. PTBA membukukan pendapatan Rp22,03 triliun pada semester I 2026, naik 8 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan mencapai Rp2,65 triliun atau tumbuh 218 persen yoy.
Pemulihan operasional pada kuartal II menjadi salah satu pendorong utama. Penguatan penjualan ekspor dan perbaikan harga jual rata-rata batu bara turut mengangkat kinerja.
Dari sisi operasional, produksi batu bara tercatat 19,45 juta ton dengan volume penjualan 21,10 juta ton. Penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton, meningkat sekitar 5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pasokan Domestik Tetap Jadi Prioritas
Pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri tetap diutamakan PTBA demi menjaga ketahanan energi nasional. Realisasi penjualan domestik mencapai 10,77 juta ton, atau menyerap sekitar 51 persen dari total penjualan perseroan hingga semester I 2026.
Porsi itu menunjukkan komitmen PTBA sebagai pemasok batu bara bagi pembangkit listrik dalam negeri, meski harga ekspor sedang menguat. Keseimbangan antara pasar ekspor dan domestik menjadi salah satu pertimbangan dalam setiap keputusan korporasi.
Likuiditas dan Belanja Modal Jadi Pertimbangan
Manajemen menegaskan setiap langkah akan memperhitungkan likuiditas, kebutuhan modal kerja, serta rencana pengembangan bisnis jangka panjang. Fokus utama PTBA tetap pada kinerja operasional yang solid, efisiensi biaya, dan keberlanjutan agenda transformasi.
Jika kajian mendalam berujung pada eksekusi buyback atau aksi korporasi strategis lain, PTBA berkomitmen menyampaikan keterbukaan informasi sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia.
"Apabila dari hasil kajian mendalam tersebut Manajemen memutuskan untuk mengeksekusi rencana buyback saham atau tindakan korporasi strategis lainnya, PTBA akan segera menyampaikan keterbukaan informasi," tutup Eko.
Kombinasi laba yang melonjak dan penjualan domestik yang stabil memberi PTBA ruang fiskal untuk mempertimbangkan aksi korporasi. Bagi investor, kepastian arah buyback akan menjadi sinyal penting soal prioritas alokasi kas emiten batu bara pelat merah tersebut pada sisa tahun ini.