TARAKAN — Kenaikan harga bahan pangan kembali menekan indeks harga di Kalimantan Utara. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan September 2026. Cabai rawit mencatat andil paling besar, disusul telur ayam ras dan daging ayam ras.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menyebut lonjakan harga cabai rawit terjadi karena pasokan dari daerah pemasok menipis. Kekeringan dan kemarau berkepanjangan disebut menekan produktivitas tanaman cabai di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
Pasokan Cabai dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan Menipis
“Kenaikan harga cabai rawit didorong oleh berkurangnya pasokan dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan sebagai daerah pemasok, seiring kondisi kekeringan dan kemarau berkepanjangan yang menekan produktivitas tanaman cabai,” ujar Agus, Rabu (7/10/2026).
Selain cabai rawit, inflasi September juga didorong telur ayam ras dengan andil 0,04 persen dan daging ayam ras 0,02 persen. Jagung manis dan cabai merah masing-masing menyumbang 0,01 persen.
Kenaikan harga telur dan daging ayam ras dipengaruhi harga di tingkat distributor serta pasokan dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Berau.
Tarif Angkutan Udara Tahan Laju Inflasi
Tekanan inflasi tertahan oleh kelompok transportasi. Tarif angkutan udara memberikan andil deflasi 0,03 persen akibat lemahnya permintaan penerbangan di Kaltara dan minimnya momentum libur panjang, meskipun harga avtur masih tinggi.
Penurunan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura. Sawi hijau dan bayam masing-masing memberi andil deflasi 0,02 persen, sedangkan kacang panjang 0,01 persen.
Agus menyebut penurunan harga sayuran itu menunjukkan peningkatan pasokan karena petani lokal mulai memasuki masa panen.
Ancaman Karhutla hingga Lonjakan Permintaan Proyek Strategis Nasional
Menurut Agus, inflasi Kaltara masih terjaga di tengah berbagai risiko. Risiko itu meliputi gangguan pasokan akibat kondisi global, anomali cuaca, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, hingga lonjakan permintaan dari Proyek Strategis Nasional serta penyesuaian tarif energi dan transportasi.
Guna menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah se-Kaltara memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
“Sepanjang 2026, TPID telah mendorong 225 kegiatan pasar murah di berbagai wilayah Kaltara. Selain itu, dilakukan penerapan Good Agriculture Practices (GAP) melalui penggunaan irigasi tetes untuk komoditas cabai merah serta penyediaan sarana pendukung peningkatan produktivitas,” tutupnya.