KALIMANTAN UTARA — Nilai tukar rupiah menguat tipis 0,01% ke Rp18.002,9 per dolar AS pada perdagangan Selasa (20/10/2026), berdasarkan data Investing.com pukul 13.09 WIB. Posisi itu sedikit lebih kuat dari penutupan sebelumnya di Rp18.005,6, meski secara mingguan rupiah masih tertekan 0,63%. Pasar menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan Rabu (21/10/2026).
Penguatan rupiah hari ini terbilang tipis. Pasangan USD/IDR turun 2,7 poin dengan rentang harian Rp17.987,3 hingga Rp18.058,0. Di pasar spot, rupiah pagi ini sempat dibuka menguat 31 poin atau 0,07% ke Rp18.015 per dolar AS dari penutupan Senin (19/10/2026) di Rp18.046.
Meski menguat, arah pergerakan sepekan terakhir belum berpihak ke rupiah. Sejak menyentuh area Rp17.500 pada September, dolar AS terus menanjak dan sempat mendekati Rp18.100 sebelum sedikit mundur. Level tertinggi 52 minggu tercatat di Rp18.197,5.
Dolar AS Melemah, tapi Inflasi AS Masih Panas
Indeks dolar AS (DXY) melemah ke dekat 101,80 pada Selasa pagi waktu Eropa. Pelemahan terjadi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan tidak akan mendahului keputusan rapat.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang The Fed menahan suku bunga pada FOMC Oktober sebesar 82,8%. Namun inflasi AS September tercatat 3,7% secara tahunan, di atas perkiraan, sehingga ruang pengetatan belum sepenuhnya tertutup.
"Pelaku pasar masih memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun," ujar Ibrahim Assuabi, Direktur PT Traze Andalan Futures, dikutip dari Viva.
Tekanan Eksternal: Timur Tengah dan Perang Rusia-Ukraina
Selain faktor suku bunga, risiko geopolitik ikut membebani rupiah. Lukman Leong dari Doo Financial Futures menyebut eskalasi di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang mendorong harga minyak berpotensi kembali menekan nilai tukar.
Kedua faktor itu membuat pasar enggan melepas dolar AS secara agresif, meski DXY sedang melemah. Rupiah pun bergerak di zona sempit sepanjang sesi.
RDG BI 20-21 Oktober Jadi Penentu Arah
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026, dengan keputusan dijadwalkan Rabu (21/10/2026). BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan BI menahan BI-Rate di 5,75%, namun risiko pengetatan tetap terbuka bila tekanan rupiah berlanjut.
Proyeksi berbeda datang dari Kepala Ekonom BCA David Sumual. Ia memproyeksikan BI menaikkan suku bunga untuk menjaga selisih imbal hasil dan mencegah investor asing menarik dana.
Dari pasar saham, Lukman Leong menilai kebijakan mengeluarkan saham kategori HSC dari perhitungan IHSG menjadi sentimen positif. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.950-Rp18.100.
Apa Artinya bagi Investor
Bagi pemegang aset dolar AS dan kripto stablecoin seperti USDT dan USDC, pergerakan kurs tetap jadi acuan utama karena nilainya dirancang mengikuti dolar AS. Pemantauan berkala membantu investor memahami kondisi pasar sebelum mengambil keputusan, sesuai profil risiko masing-masing.
Yang perlu dicermati pekan ini: hasil RDG BI dan rilis data inflasi AS lanjutan. Dua agenda itu akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.100 atau kembali menguji level tertinggi 52 minggu.