KALIMANTAN UTARA — Kesepakatan itu ditandatangani Kepala OIKN Basuki Hadimuljono bersama perwakilan Badan Bank Tanah dan manajemen Lion Air Group di kantor Otorita IKN, Kalimantan Timur, Jumat (14/8). Fasilitas yang akan dibangun mencakup pusat pelatihan penerbangan dan bengkel perawatan pesawat berbadan lebar.
Basuki menyebut pengembangan fasilitas ini menyusul potensi besar landasan pacu Bandara VVIP IKN yang membentang 3.000 meter dengan lebar 85 meter. Spesifikasi itu memungkinkan bandara melayani pesawat jet berbadan lebar kelas internasional.
Dari Training Center Menjadi Fasilitas Perawatan Pesawat
Awalnya Lion Air Group hanya berencana mendirikan training center seluas 30 hektare di IKN. Namun setelah kajian lebih dalam, maskapai memperluas rencana tersebut menjadi fasilitas MRO untuk pemeliharaan armada, serupa dengan yang telah beroperasi di Batam.
"Lion Group mau bikin training center 30 hektare di sini. Tapi, setelah mereka berpikir untuk training center ternyata mereka pengen bangun peralatan training-nya. Jadi, MRO untuk pemeliharaan seperti yang di Batam," ujar Basuki dalam media briefing.
OIKN kemudian mempertemukan Lion Air Group dengan Badan Bank Tanah karena lahan di sekitar bandara VVIP merupakan aset lembaga tersebut. Skema kerja sama ini dirancang agar pemanfaatan tanah negara berjalan sesuai aturan yang berlaku.
Bandara VVIP IKN Disiapkan untuk Embarkasi Haji dan Umrah
Selain pengembangan MRO, Otorita IKN telah berkomunikasi dengan Menteri Agama mengenai potensi Bandara VVIP IKN menjadi titik embarkasi haji dan umrah. Langkah ini membuka peluang baru bagi jemaah asal Kalimantan Timur dan sekitarnya yang selama ini harus transit ke Balikpapan atau Makassar.
"Saya juga sudah berkomunikasi dengan Pak Menteri Haji kalau bisa dipakai untuk embarkasi umrah dan haji," terang Basuki.
Perubahan status bandara dari khusus menjadi komersial masih menunggu penerbitan Peraturan Presiden. Basuki memastikan regulasi tersebut tengah diproses dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
"Insyaallah tinggal kami menunggu Perpresnya untuk berubah VVIP, Bandara Khusus, menjadi bandara komersial," pungkasnya.
Dampak Ekonomi bagi Kawasan IKN
Kehadiran fasilitas MRO seluas 30 hektare diproyeksikan menyerap tenaga kerja teknis dalam jumlah besar. Industri perawatan pesawat membutuhkan teknisi bersertifikat, insinyur aviasi, hingga staf pendukung operasional.
Bagi Lion Air Group, investasi ini memperkuat jaringan pemeliharaan di kawasan timur Indonesia. Selama ini maskapai mengandalkan fasilitas MRO di Batam dan Jakarta untuk perawatan rutin armadanya.
Pengoperasian bandara komersial di IKN juga berpotensi mengerek konektivitas wilayah Penajam Paser Utara dan sekitarnya. Rute penerbangan langsung dari dan menuju ibu kota negara baru akan memangkas waktu tempuh dibandingkan harus transit di bandara lain.
Kepastian investasi ini menjadi sinyal positif iklim usaha di IKN setelah pemerintah gencar mendorong masuknya sektor swasta ke kawasan tersebut. Proyek infrastruktur transportasi udara dinilai strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal.