KALIMANTAN UTARA — Kehamilan membawa perubahan besar, bukan hanya pada fisik, tapi juga kondisi emosional. Ada kalanya Bunda merasa sangat bahagia, lalu beberapa menit kemudian diliputi kecemasan. Ini bukan hal yang aneh, kok. Memahami pola perubahan suasana hati ini bisa membantu Bunda lebih siap menghadapinya.
Trimester Pertama: Adaptasi Besar di Awal Kehamilan
Trimester pertama berlangsung hingga usia kehamilan 12 minggu. Ini adalah masa adaptasi terberat karena tubuh Bunda berubah drastis dalam waktu singkat.
Menurut Patient.info yang ditelaah dokter umum Dr Sarah Jarvis, fase ini bisa terasa sangat berat. Setelah tahu positif hamil, Bunda mungkin merasakan campuran emosi: bahagia dan antusias, tapi juga cemas berlebihan soal kondisi janin.
Keluhan fisik seperti mual, muntah, mudah lelah, dan payudara nyeri membuat Bunda semakin lelah secara emosional. Akibatnya, Bunda jadi lebih mudah tersinggung atau merasa kewalahan menghadapi stres kecil sekalipun.
Penelitian di Journal of Affective Disorders yang mengikuti 1.832 perempuan menemukan pola menarik. Sebagian besar peserta mengalami gejala depresi yang rendah dan stabil selama kehamilan. Namun, ada kelompok yang justru mengalami peningkatan gejala depresi, terutama dipengaruhi riwayat depresi sebelumnya, peristiwa hidup saat hamil, dan kehamilan yang tidak direncanakan.
Trimester Kedua: Lebih Nyaman, Tapi Bukan Berarti Bebas Cemas
Memasuki usia kehamilan 13–27 minggu, sebagian besar ibu mulai merasa lebih baik. Mual berkurang, energi kembali meningkat, dan Bunda mulai semangat menyiapkan perlengkapan bayi.
Tapi, perubahan emosi tidak otomatis berhenti di sini. Bunda masih mungkin mudah menangis atau merasa sensitif. Kekhawatiran bergeser ke hal-hal seperti kondisi janin, bentuk tubuh yang berubah, hubungan dengan pasangan, hingga masalah finansial untuk biaya persalinan.
Studi di jurnal Psicothema terhadap 385 ibu hamil menunjukkan gejala kecemasan tetap umum terjadi sepanjang kehamilan. Prevalensinya tercatat 19,5 persen di trimester pertama, 16,8 persen di trimester kedua, dan 17,2 persen di trimester ketiga. Artinya, meski trimester kedua terasa lebih nyaman, kecemasan bisa saja tetap muncul.
Trimester Ketiga: Menjelang Persalinan, Kecemasan Meningkat
Di trimester ketiga, perubahan fisik kembali terasa dominan. Perut semakin besar, gerakan bayi makin aktif, tidur jadi tidak nyaman, dan Bunda lebih sering bolak-balik ke kamar mandi. Semua ini membuat tubuh cepat lelah.
Semakin dekat dengan hari persalinan, pertanyaan-pertanyaan seperti "Apakah aku bisa melewati persalinan?" atau "Bagaimana kehidupan setelah bayi lahir?" semakin sering muncul. Rasa takut menghadapi persalinan dan perubahan besar setelahnya adalah bagian normal dari emosi trimester ketiga.
Di sisi lain, Bunda mungkin mulai mengalami nesting, yaitu dorongan kuat untuk menyiapkan rumah dan perlengkapan bayi. Membersihkan rumah, menata kamar bayi, atau mencuci pakaian kecil-kecil adalah cara Bunda menyalurkan energi dan antisipasi menyambut si kecil.
Kapan Bunda Perlu Waspada dan Konsultasi ke Dokter?
Perubahan suasana hati memang wajar, tapi Bunda perlu memperhatikan jika rasa sedih atau cemas mulai menetap, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Terutama jika Bunda sulit makan, tidak bisa tidur, atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan atau tenaga kesehatan jiwa. Dukungan dari pasangan, keluarga, dan sesama ibu hamil juga sangat membantu Bunda melewati masa ini dengan lebih tenang.
Ingat, setiap ibu punya pengalaman emosional yang berbeda selama kehamilan. Tidak ada yang salah dengan perasaan Bunda, kok. Yang terpenting adalah mengenali kondisi diri dan mencari bantuan saat membutuhkan.