KALIMANTAN UTARA — Bagi Pochettino, kehadiran Messi di MLS bukan sekadar magnet komersial. Ia melihat dampak langsung pada mentalitas pemain lawan yang harus berhadapan dengan eks Barcelona tersebut. "Dia fundamental bagi perkembangan sepak bola di sini. Dia menjadi tolok ukur bagi pemain yang menghadapinya di MLS, karena mereka menemukan apa artinya benar-benar bersaing," ujar Pochettino kepada FourFourTwo.
Target Tanpa Batas di Piala Dunia 2026
Pochettino sendiri baru mengambil alih kursi pelatih Timnas AS setelah hengkang dari Chelsea. Ia mengaku langsung terpikat saat Matt Crocker, mantan direktur olahraga US Soccer, menawari posisi itu. "Kami termotivasi bergabung dengan proyek ini. Target yang dibicarakan orang adalah mencapai perempat final. Tapi sebagai pelatih, saya memasang target tanpa batas. Pola pikirnya harus melaju sejauh mungkin," tegasnya.
AS hanya sekali menembus perempat final sejak finis ketiga di edisi perdana 1930. Untuk bersaing, Pochettino fokus pada sisi mental. "Kami harus bersaing lebih baik. Pemain kami tampil bagus di klub, tapi secara kelompok masih ada hambatan mental. Dunia seolah membuat kami merasa sepak bola tidak penting di AS, dan itu menciptakan kurang percaya diri," jelasnya.
Misi Timnas Menginspirasi Bangsa
Piala Dunia 2026 yang digelar bersama Kanada dan Meksiko disebut bisa jadi momentum kebangkitan sepak bola Negeri Paman Sam. Namun Pochettino menekankan, justru tim nasional yang harus memicu gairah, bukan sebaliknya. "Bisa saja (tumbuh), tapi harus timnas yang menginspirasi warga AS untuk memberdayakan sepak bola di sini, bukan sebaliknya. Kami punya Piala Dunia dengan kesempatan mewujudkannya," pungkasnya.
Dengan Messi sebagai katalis di level klub dan Pochettino yang menanamkan mental juara di level timnas, AS kini punya fondasi ganda untuk bersaing di panggung global. Pertanyaan besarnya: akankah mereka mampu memanfaatkan momen sebagai tuan rumah untuk mengubah wajah sepak bola Amerika?