JAKARTA — Pelaksana tugas Deputi Pemberantasan BNN RI Brigadir Jenderal Polisi Adri Irniadi menyatakan pengawasan diperketat pada titik-titik masuk yang selama ini dimanfaatkan jaringan sindikat internasional. Jalur perairan menjadi perhatian utama karena kerap dipakai menyelundupkan barang haram ke tanah air.
Adri menyebut Selat Malaka sebagai wilayah perairan yang paling sering dijadikan jalur oleh penyelundup, terutama jaringan yang berasal dari kawasan segitiga emas di Asia Tenggara. Posisi geografis perairan itu dinilai strategis bagi pelaku.
Selain letak yang menguntungkan penyelundup, tingginya permintaan dan besarnya nilai jual narkotika di Indonesia menjadi pemicu utama aksi mereka. Kombinasi tiga faktor itu yang membuat Selat Malaka sulit ditinggalkan para pelaku.
Selat Malaka Jadi Jalur Favorit Jaringan Segitiga Emas
"Selat Malaka menjadi salah satu wilayah perairan yang kerap menjadi jalur favorit bagi para penyelundup narkotika terutama jaringan yang berasal dari kawasan golden triangle (segitiga emas) di Asia Tenggara," tutur Adri dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Pernyataan itu disampaikan di tengah tekanan peredaran gelap narkotika yang masih mengandalkan rute laut. Pengawasan di perairan pun menjadi prioritas BNN bersama instansi terkait.
Ancaman dari Dalam Negeri: Laboratorium Gelap di Aceh
BNN tidak hanya membenahi pintu masuk dari luar negeri. Ancaman dari dalam negeri juga diwaspadai, khususnya pengolahan sabu cair menjadi sabu kristal atau crystal methamphetamine.
Baru-baru ini BNN mengungkap laboratorium gelap ilegal di wilayah Aceh. Dari lokasi itu, penyidik menyita sekitar 1,2 ton bahan baku sabu cair yang siap diproses lebih lanjut.
Menurut Adri, pengungkapan tersebut merupakan hasil investigasi mendalam serta pertukaran informasi intelijen dengan instansi terkait dan mitra penegak hukum mancanegara. Temuan itu memperlihatkan sindikat tidak hanya menyelundupkan barang jadi, tetapi juga menyiapkan produksi di dalam negeri.
Deteksi Produksi Domestik Jadi Prioritas Baru
Adri menegaskan komitmen pemberantasan narkotika dilakukan secara komprehensif. Fokusnya bukan hanya memblokir pintu masuk perbatasan, tetapi juga mendeteksi dan mengantisipasi potensi produksi domestik.
Kepala BNN RI sekaligus Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, kata Adri, meminta seluruh jajaran meningkatkan kerja sama dan sinergi dengan pemangku kepentingan. Sinergi itu diarahkan untuk memberantas penyelundupan maupun peredaran gelap narkotika yang diproduksi di dalam negeri.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya melindungi masyarakat dan menyelamatkan generasi penerus bangsa dari ancaman bahaya narkotika. Pengawasan jalur masuk dan deteksi produksi domestik akan berjalan beriringan.