Pencarian

Wamen Komdigi Dorong Indonesia Masuk Rantai Industri AI, Bukan Sekadar Pasar

Minggu, 13 September 2026 • 19:19:31 WIB
Wamen Komdigi Dorong Indonesia Masuk Rantai Industri AI, Bukan Sekadar Pasar
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria berbicara dalam Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat (11/9/2026).

KALIMANTAN UTARA — Selama ini Indonesia lebih banyak dikenal sebagai pasar teknologi AI ketimbang pemain di rantai produksinya. Nezar Patria ingin posisi itu berubah, bukan sekadar jadi konsumen aplikasi kecerdasan artifisial.

Menurutnya, rantai industri AI jauh lebih panjang dari yang terlihat pengguna sehari-hari. Cakupannya meliputi kebutuhan energi dan air, pusat data, kemampuan komputasi, industri semikonduktor, platform, hingga aplikasi yang dipakai masyarakat dan pelaku usaha.

Peluang Indonesia di Rantai Semikonduktor

Nezar menyebut Indonesia punya sejumlah material yang dibutuhkan industri semikonduktor. Di antaranya nikel, pasir silika, timah, tembaga, dan emas.

Namun ia menegaskan kepemilikan bahan mentah tidak otomatis mengangkat posisi Indonesia. Pasir silika jadi contoh yang ia soroti.

"Pasir silika kita 7,8 miliar ton menurut data ESDM. Tetapi tidak ada yang mengolahnya menjadi silicone wafer yang dibutuhkan untuk membuat semikonduktor," ujarnya.

Menurut Nezar, kemampuan mengolah bahan mentah menjadi material strategis dapat menciptakan apa yang disebut sebagai choke point. Yakni titik penting dalam rantai produksi yang sulit digantikan dan punya nilai strategis tinggi.

"Dalam industri ini, siapa yang menguasai barang-barang yang langka, dia akan menguasai choke point. Choke point itu bukan seperti menguasai Selat Hormuz atau Selat Malaka, tetapi dalam proses produksi ada titik-titik sempit yang dikuasai oleh negara-negara tertentu saja," jelasnya.

Strategi Ambil Sebagian, Bukan Seluruh Rantai

Nezar tidak menuntut Indonesia menguasai seluruh rantai industri AI. Pemerintah bisa memilih bagian tertentu yang bernilai strategis, lalu membangun kapasitas nasional untuk menguasainya.

Ia membandingkan dengan Taiwan yang butuh waktu panjang untuk membangun industri semikonduktornya. Indonesia, kata dia, setidaknya bisa mengamankan pasokan material bagi industri di Taiwan dan Korea Selatan.

"Mungkin kita tidak akan masuk seperti Taiwan, karena itu butuh waktu yang panjang. Tapi setidaknya kita mengamankan beberapa material yang dibutuhkan oleh industri-industri seperti yang berbasis di Taiwan, di Korea Selatan. Materialnya itu ada di kita," kata Nezar.

Ia menilai kolaborasi lintas pihak jadi kunci membangun ekosistem yang utuh dari hulu ke hilir.

"Ini saatnya kolaborasi harus dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang end-to-end," ujar Nezar dalam Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat (11/9/2026).

Kenapa Ini Penting untuk Ekosistem Digital

Posisi di rantai pasok global menentukan seberapa besar manfaat ekonomi yang bisa dipetik Indonesia dari pertumbuhan industri AI. Selama hanya jadi pasar, nilai tambahnya lebih banyak dinikmati negara lain.

Bagi pelaku bisnis digital dan investor startup, arah kebijakan ini berpotensi membuka peluang di sektor hulu teknologi. Mulai dari pengolahan mineral, komponen semikonduktor, sampai infrastruktur pusat data dan komputasi.

Nezar menekankan Indonesia tidak perlu menunggu kemampuan penuh untuk masuk. Menguasai beberapa titik kritis di rantai produksi sudah cukup untuk memperkuat daya tawar nasional di peta industri AI global.

Follow infobulungan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: serayunusantara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks