Pencarian

CATL Peringatkan Perang Harga EV Tiongkok: Kualitas Baterai Jadi Korban, Cacat Produksi Meningkat

Rabu, 09 September 2026 • 11:35:31 WIB
CATL Peringatkan Perang Harga EV Tiongkok: Kualitas Baterai Jadi Korban, Cacat Produksi Meningkat
CATL menyoroti peningkatan cacat produksi baterai akibat perang harga kendaraan listrik di Tiongkok yang memangkas waktu pengujian.

KALIMANTAN UTARA — Pernyataan keras itu disampaikan Zeng pada Konferensi Baterai Dunia 2026 di Sichuan, Selasa (3/9). Ia menunjuk langsung pada ritme peluncuran produk yang tidak masuk akal sebagai biang keroknya. Data dari Tang Yuqun menyebutkan, sejak awal tahun ini saja pasar Tiongkok sudah kedatangan lebih dari 600 model mobil baru—artinya ada sekitar tiga model meluncur setiap hari.

Tekanan untuk memenuhi jadwal gila itu memangkas waktu pengujian dan inspeksi secara drastis. Hasilnya, menurut CATL, kegagalan produksi kini muncul di banyak lini baterai. Ini bukan sekadar teori—bukti di lapangan sudah bertebaran dalam beberapa bulan terakhir.

Skandal "Baterai Pisang" GAC Aion dan Dampaknya ke 213.000 Unit

Kasus paling masif datang dari GAC Aion. Sekitar 213.000 kendaraan yang memakai baterai CALB dilaporkan mengalami penggembungan sel hingga berbentuk "pisang". Kondisi ini memicu kehilangan daya dan mengancam keselamatan operasional kendaraan.

Angka 213.000 unit bukan jumlah kecil. Ini menunjukkan cacat produksi sudah menjalar ke level yang berdampak sistemik pada satu merek, bukan lagi kasus sporadis yang bisa dianggap outlier.

Gugatan Viridi vs Sunwoda: Kompensasi Rp 9,7 Miliar Jadi Preseden Hukum

Sebelum kasus GAC Aion mencuat, industri sempat diguncang gugatan hukum besar. Pada Desember 2025, Viridi—anak perusahaan Geely—menuntut produsen baterai Sunwoda atas sel baterai cacat. Hasilnya, Sunwoda dipaksa membayar kompensasi mencapai 608 juta yuan (sekitar Rp 1,3 triliun).

Gugatan ini penting karena menetapkan preseden: pembeli baterai kini berani menuntut balik pemasok atas kegagalan kualitas. Konsekuensi finansialnya nyata, bukan sekadar risiko reputasi.

Mengapa Ini Berbahaya bagi Pasar EV Global?

Tiongkok menguasai lebih dari separuh produksi sel baterai dunia. Ketika kualitas di lini produksi dalam negeri terganggu, dampaknya tidak berhenti di perbatasan Tiongkok. Banyak merek global yang merakit kendaraan di sana atau membeli sel dari pemasok Tiongkok otomatis terekspos risiko yang sama.

Yang lebih mengkhawatirkan, perang harga memaksa produsen menekan biaya di setiap titik. Baterai adalah komponen termahal dalam EV—menjadi target paling logis untuk efisiensi biaya, tapi juga titik paling berbahaya untuk dipangkas kualitasnya.

Yang Perlu Diperhatikan Konsumen dan Regulator

Bagi pasar Indonesia yang mulai serius mengadopsi EV, peringatan ini relevan. Banyak model EV yang masuk ke Indonesia menggunakan sel baterai dari produsen Tiongkok yang sama. Sertifikasi keamanan lokal menjadi tameng terakhir yang harus diperketat.

Belum ada indikasi masalah serupa terjadi pada unit yang beredar di Indonesia, tapi track record pabrikan tetap perlu dicermati. Konsumen disarankan memantau riwayat recall dan service campaign dari merek yang dipilih—itu indikator paling jujur soal kualitas komponen yang sebenarnya.

Follow infobulungan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: otomotif.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks