Pencarian

Wall Street Terkoreksi, Harga Minyak Melonjak 2,7% usai Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir

Selasa, 18 Agustus 2026 • 08:19:01 WIB
Wall Street Terkoreksi, Harga Minyak Melonjak 2,7% usai Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir
Indeks Wall Street ditutup melemah setelah gencatan senjata AS-Iran berakhir, dengan Dow Jones turun 0,51% ke posisi 53.459,78.

KALIMANTAN UTARA — Pelemahan ini menandai hari yang penuh tekanan bagi pelaku pasar, dengan Dow Jones Industrial Average kehilangan 272,63 poin atau 0,51% ke posisi 53.459,78. Nasdaq Composite juga tercatat turun 0,32% ke level 26.644,91. Investor kini mengalihkan fokus dari laporan pendapatan perusahaan ke risiko geopolitik yang dapat mengganggu pasokan energi global.

Kebuntuan Diplomasi dan Sikap Ofensif Iran

Katalis utama penurunan pasar adalah kegagalan perpanjangan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran. Kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan bahwa negosiasi mengalami jalan buntu setelah Iran menolak pembicaraan lebih lanjut. Seorang pejabat senior Iran bahkan menyatakan kepada Reuters bahwa negaranya akan beralih ke posisi ofensif jika diplomasi dengan AS gagal.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras kepada Fox News, menyebut akan mengebom Oman jika negara tersebut "menghalangi" kepentingan AS. Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan penghasil minyak utama dunia.

Lonjakan Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi

Dampak langsung dari eskalasi ini terlihat pada harga komoditas energi. Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 2,6% menjadi US$ 84,50 per barel, sementara kontrak berjangka Brent—patokan global—naik 2,7% ke level US$ 90,87 per barel. Kenaikan ini ikut mendorong imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun ke level tertinggi sejak Juni 2007, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi.

Menurut Pendiri Evertern Wealth, Jason Stephens, pasar kini kembali memantau secara langsung perkembangan negosiasi antara kedua negara. "Kami kembali memantau negosiasi secara langsung, dan saya pikir banyak orang memilih untuk menutup mata terhadap hal ini," ujarnya dikutip dari CNBC, Selasa (18/8). Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap pemerintahan saat ini sangat besar untuk mencapai kesepakatan, sembari menilai peluang harga minyak turun lebih besar dibandingkan risiko kenaikannya jika kesepakatan tercapai—terutama menjelang pemilihan umum paruh waktu AS.

Saham Micron dan Anthropic Jadi Penopang di Tengah Tekanan

Di tengah pelemahan pasar, sejumlah saham teknologi justru mencatatkan penguatan. Saham Micron Technology naik 4% setelah Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan pemerintahan Trump tidak mendukung rencana Apple membeli cip memori dari Cina, seperti dilaporkan The Wall Street Journal pekan lalu. Kebijakan ini berpotensi menguntungkan produsen cip domestik AS.

Sentimen positif juga datang dari laporan Bloomberg News yang menyebut pendapatan Anthropic pada kuartal II mencapai lebih dari US$ 11,5 miliar, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan daya tahan sektor kecerdasan buatan di tengah ketidakpastian makroekonomi.

Agenda Pekan Ini: Risalah The Fed dan Laporan Ritel

Memasuki pekan ini, investor akan menghadapi agenda ekonomi yang relatif lebih sepi. Federal Reserve dijadwalkan merilis risalah pertemuan terbarunya pada Rabu, yang akan menjadi sinyal penting mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan. Selain itu, sejumlah perusahaan ritel besar akan menyampaikan laporan keuangan, dengan Walmart dijadwalkan pada Kamis serta Home Depot dan Lowe's masing-masing pada Selasa dan Rabu.

Kinerja sektor ritel akan menjadi barometer utama kesehatan konsumen AS di tengah tekanan suku bunga tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi prospek ekonomi global.

Follow infobulungan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks