KALIMANTAN UTARA — Pertumbuhan kredit BNI tidak hanya agresif, tetapi juga terdistribusi merata di seluruh segmen, mulai dari korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer. Ekspansi ini mendorong pendapatan bunga bersih (NII) naik 14,2% yoy menjadi Rp 22,3 triliun. Pendapatan berbasis komisi (FBI) juga tumbuh 14,2% yoy mencapai Rp 9 triliun.
Kombinasi pendapatan inti yang solid tersebut menjadi pendorong utama PPOP BNI menembus rekor tertinggi untuk periode semester pertama sepanjang sejarah perseroan.
Strategi Dana Murah dan Peran Kanal Digital
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menyebut penguatan struktur pendanaan menjadi kunci penekanan biaya dana (cost of fund). Rasio dana murah (CASA) BNI terjaga di level 65,4%, seiring pertumbuhan CASA sebesar 11,2% yoy. Alhasil, cost of fund DPK membaik ke posisi 2,56% dari sebelumnya 2,78%.
Dari sisi kanal digital, aplikasi wondr by BNI kini digunakan 15,1 juta pengguna dengan volume transaksi melonjak 110% yoy. Pada segmen wholesale, platform BNIdirect mencatatkan volume transaksi Rp 6.039 triliun, tumbuh 17% yoy. Adapun program penguatan jaringan cabang BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) telah diimplementasikan penuh di seluruh wilayah operasional.
Kualitas Aset Membaik
Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, memastikan kualitas aset perseroan terus membaik. Rasio Loan at Risk (LAR) turun signifikan dari 11,0% menjadi 8,1%. Sementara itu, rasio Non-Performing Loan (NPL) tetap aman di level 1,9% per akhir Juni 2026.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan pencapaian ini sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. Akselerasi bisnis yang didorong kanal digital dan efisiensi biaya dana menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan perseroan ke depan.