Pencarian

MSCI Bakal Depak GOTO dan FILM dari Indeks Global, Outflow Rp1,5 Triliun Mengintai Pasar Saham

Rabu, 29 Juli 2026 • 09:07:26 WIB
MSCI Bakal Depak GOTO dan FILM dari Indeks Global, Outflow Rp1,5 Triliun Mengintai Pasar Saham
Bobot saham Indonesia di indeks MSCI merosot dari 2,6 persen pada 2018 menjadi 0,46 persen saat ini.

KALIMANTAN UTARA — Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun, bobot saham Indonesia di MSCI terus merosot tajam dari sekitar 2,6 persen pada 2018 menjadi hanya 0,46 persen saat ini. Jika tren ini berlanjut, pasar modal tanah air akan kehilangan daya tarik di mata investor global yang mengikuti indeks acuan tersebut.

GOTO Terjebak di Level Gocap, Likuiditas Jadi Biang Masalah

Saham GOTO menjadi salah satu yang paling berisiko dihapus dari MSCI Global Standard Index. MSCI sebelumnya telah memberikan "kartu kuning" dengan menurunkan klasifikasi likuiditas GOTO ke kategori terendah (lowest liquidity category).

Status tersebut memicu periode pemantauan ketat. Jika rata-rata volume perdagangan harian GOTO terus mengering dan gagal memenuhi ambang batas minimum dalam periode review, MSCI akan menghapus saham tersebut secara otomatis tanpa mempertimbangkan kapitalisasi pasarnya. Harga saham GOTO sudah berada di level Rp50 per saham sejak 5 Mei 2026 dan belum bergerak hingga Senin (27/7/2026).

Saat ini, GOTO masih tercatat sebagai konstituen dengan porsi 3,44 persen, setara US$16,43 juta atau sekitar Rp295,74 miliar (kurs Rp18.000/US$).

Konsentrasi Kepemilikan FILM Kebablasan, Nasibnya Tinggal Tunggu Waktu

Saham FILM berada di ujung tanduk setelah masuk ke dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) per 14 Juli 2026. MSCI memiliki aturan keras: seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan sangat tinggi akan dihapus secara otomatis dari indeks global mereka.

Preseden sudah ada. Pada rebalancing sebelumnya, saham BREN dan DSSA dikeluarkan karena alasan serupa. Kini giliran FILM yang terancam menyusul. Komposisi pemegang saham menunjukkan total kepemilikan di atas 1 persen mencapai 91,52 persen per Juni 2026, naik 2,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sembilan pemegang saham utama FILM antara lain PT MD Corp Enterprise (44,12 persen), Manoj Dhamoo Punjabi (12,67 persen), dan Morgan Stanley (10,43 persen). Saat ini FILM masih menjadi konstituen MSCI Small Caps dengan bobot 0,36 persen, senilai US$1,72 juta atau sekitar Rp31 miliar.

CPIN Terjun Bebas, Free Float Market Cap Jebol

Saham CPIN juga tidak luput dari ancaman. Bukan didepak, melainkan diturunkan kelas dari MSCI Global Standard ke Small Caps. Penyebabnya, harga saham yang sudah ambles lebih dari 30 persen sejak awal tahun membuat free float market cap jatuh ke Rp17,5 triliun.

Angka tersebut menembus batas bawah regulasi MSCI yang berkisar US$1,3-1,5 miliar atau sekitar Rp20-23 triliun. Bobot CPIN di MSCI kini tersisa 1,60 persen, senilai US$7,63 juta atau sekitar Rp140 miliar.

Harapan Berlabuh ke Dana Lokal, Tapi Masih Terganjal Trauma

Ketika bobot Indonesia di MSCI terus menyusut, dana pasif asing ikut keluar. Harapan kini beralih ke investor institusi domestik untuk menopang pasar. Secara nominal, dana kelolaan (AUM) industri keuangan domestik memang naik signifikan—dari Rp972 triliun pada 2015 menjadi Rp3,05 kuadriliun per April 2026, tumbuh rata-rata 11 persen per tahun.

Masalahnya, aliran dana tersebut belum banyak masuk ke pasar saham. Sebagian besar masih mengendap di obligasi dan pasar uang. Trauma kasus Jiwasraya dan ASABRI yang bergulir sejak 2012-2019 menjadi faktor utama. Banyak pengelola dana memilih bermain aman dengan Surat Berharga Negara (SBN) ketimbang saham, apalagi setelah aturan investasi diperketat OJK termasuk Risk-Based Capital (RBC) untuk asuransi.

Disclaimer: Investasi mengandung risiko.

Bagikan
Sumber: mikirduit.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks