KALIMANTAN UTARA — Neil Rimer, sosok di balik Index Ventures yang telah mengelola dana hampir Rp 240 triliun dari investor eksternal, menyampaikan pandangan langka di Athena, Yunani, akhir Mei lalu. Dalam festival teknologi yang digelar di kota tersebut, ia mengatakan, “Ada perasaan kuat bahwa akan terjadi semacam redistribusi. Entah secara sukarela atau tidak sukarela, tapi itu akan terjadi. Saya harap itu sukarela.”
Pernyataan ini menonjol karena Rimer bukan aktivis jalanan, melainkan venture capitalist murni. Index Ventures baru saja mencatat keuntungan besar: akuisisi Wiz oleh Google dan IPO Figma tahun lalu diperkirakan menghasilkan sekitar Rp 135 triliun bagi firma tersebut. Rimer sendiri telah mundur dari investasi harian sejak 2021 dan kini menjabat ketua dewan Human Rights Watch (2019-2025) serta duduk di dewan Endeavor Greece yang membina startup di negara berkembang.
Fenomena Filantropi yang Mulai Luntur
Di balik pernyataan Rimer, data menunjukkan geliat donasi justru menurun drastis. The Giving Pledge, inisiatif Warren Buffett dan Bill Gates untuk mengajak miliarder menyumbang setengah kekayaan, hanya menarik empat penandatangan baru sepanjang 2024. Bandingkan dengan 113 keluarga di lima tahun pertamanya.
Survei Stanford Social Innovation Review mencatat donasi rumah tangga AS turun dari 66 persen (2000) menjadi sekitar 50 persen saat ini. Bahkan rumah tangga kaya pun turun, dari 90 persen (2017) menjadi 81 persen tahun lalu. “Elon Musk, orang terkaya dunia, mengatakan bisnisnya adalah filantropi,” tulis New York Times dalam laporan Maret lalu yang mengupas tren ini.
Karyawan AI Tak Minat Donasi
Kasus konkret datang dari portofolio Index sendiri: Anthropic. Perusahaan AI ini memang menyediakan program donasi yang mencocokkan sumbangan karyawan hingga 25 persen dari ekuitas mereka. Namun menurut perencana keuangan Alex Caswell, sebagian besar kliennya dari Anthropic justru fokus pada angel investing atau mendirikan startup sendiri. “Itu yang saya lihat lebih sering daripada keinginan menjadi filantropis,” kata Caswell ke Business Insider.
Pajak Kekayaan Jadi Alternatif Paksa
Ketiadaan donasi sukarela kini berhadapan dengan upaya legislasi. Pemilih California tahun ini akan menentukan nasib pajak kekayaan satu kali sebesar 5 persen yang menyasar miliarder negara bagian itu. Google pendiri Sergey Brin dan Larry Page sudah memindahkan domisili ke Florida Selatan untuk mengantisipasi.
OpenAI yang dilaporkan bersiap IPO pada 2027 mungkin ikut terdorong oleh aturan ini. Pasalnya, jika pajak disahkan, perhitungan kekayaan akan berdasarkan aset global individu pada akhir tahun kalender ini.
Gubernur Gavin Newsom menentang langkah tersebut, didukung ekonom yang mencatat banyak negara industri telah mencabut pajak serupa sejak 1990 karena warga kaya kabur. Opsi lain yang kontroversial: OpenAI dikabarkan menawarkan 5 persen saham ke pemerintah federal—langkah yang oleh CEO Sam Altman disebut berbagi keuntungan AI dengan publik, namun oleh kritikus dinilai sekadar membeli perlindungan politik di Washington.
“Kata-kata paling berbahaya di dunia adalah: ‘Saya dari pemerintah, dan saya di sini untuk membantu’,” canda investor veteran Roelof Botha dalam wawancara terpisah tahun lalu. Wall Street Journal melaporkan, Rimer sendiri berharap para pemimpin teknologi bisa memainkan peran utama dalam redistribusi ini sebelum negara mengambil alih.