TARAKAN — Andi Saputro, guru Bahasa Indonesia SMPN 3 Tarakan, membimbing siswa menulis cerita sejak mereka duduk di kelas delapan. Naskah yang awalnya hanya bentuk apresiasi hasil belajar itu berkembang setelah orang tua menyatakan dukungan penuh agar karya anak mereka diajukan ke percetakan.
Biaya cetak mandiri saat itu sekitar Rp200.000 per karya. Proses penyusunan hingga penerbitan satu buku memakan waktu satu semester atau kurang lebih lima bulan.
Tantangan terbesar bukan soal biaya, melainkan saat siswa kehabisan ide di tengah jalan. Andi menyebut pendampingan arah cerita menjadi kunci agar naskah tidak berhenti.
"Dalam karya siswa ini, mereka sendiri yang mengeksplorasi diri ketika buntu. Tantangan kami adalah membimbing arah cerita selanjutnya. Ketika mereka mandek selama seminggu untuk mencari inspirasi, setelah ketemu, mereka lanjut lagi," ungkap Andi Saputro.
Jenis tulisan disesuaikan dengan minat masing-masing siswa. Pecinta fauna menulis fabel, siswa yang suka cerita padat menggarap cerpen, sementara yang tertarik kisah panjang dibimbing menulis novel.
Siswi kelas 9.7 itu menerbitkan novel pertamanya setebal 138 halaman. Judul "Uranion Palation" berasal dari gabungan kata yang berarti "Langit" dan "Istana".
Ceritanya soal peperangan antar-dimensi dan petualangan karakter unik yang terinspirasi film dan game yang ia tonton. Proses kreatifnya memakan waktu sekitar dua bulan.
"Buku ini dibuat untuk menginspirasi anak-anak di luar sana dengan imajinasi seperti saya. Buku ini berisi tentang imajinasi dan semua isi kepala saya yang saya tuangkan ke dalam buku ini. Jika kamu suka berkhayal seperti saya, lebih baik kamu tuangkan semua isi kepala kamu ke dalam buku, dan buatlah buku tentang imajinasi kamu," tulis Natalia.
Natalie mengaku sempat jenuh dan kehabisan ide. Ia mengatasinya dengan berdiskusi bersama teman, meminta bantuan guru, atau mencari suasana baru di luar rumah.
"Bisa menginspirasi anak-anak di luar sana yang imajinasinya banyak, ketimbang hanya dipendam, lebih baik dituangkan dalam bentuk buku," tuturnya.
Penulis muda lain, Nur Aini, menyelesaikan novel perdananya berjudul "Jeda Setelah Ujian". Siswi kelas 9 kelahiran Tarakan, 28 Oktober 2011, itu menyelami makna persahabatan dalam karyanya.
Buku-buku karya siswa SMPN 3 Tarakan kini diperjualbelikan pihak penerbit. Setiap penulis mendapat hak royalti 10 persen dari penjualan.
Pihak sekolah berharap terbitnya buku-buku tersebut memotivasi siswa lain ikut menulis dan berkarya, bukan sekadar menghabiskan waktu luang dengan gawai.