TARAKAN — Kota Tarakan bukan sekadar nama di peta Kalimantan Utara. Jauh sebelum menjadi kotamadya, wilayah pesisir ini sudah jadi titik temu nelayan dari berbagai daerah. Cerita rakyat Tidung menyebut nama Tarakan lahir dari kata "tarak" yang berarti bertemu atau tempat singgah, digabung "ngakan" yang berarti makan.
Dokumen Perubahan RPJMD Kota Tarakan 2019-2024 mencatat makna harfiah itu menggambarkan tempat para nelayan berhenti untuk beristirahat dan makan. Letaknya di pesisir Laut Sulawesi membuat Tarakan jadi lokasi pertukaran hasil tangkapan antar nelayan.
Kerajaan Tidung dan Jejak Kekuasaan di Pesisir Tarakan
Kerajaan Tidung dikenal sebagai penguasa di kawasan Kalimantan Utara yang dulu masih bagian Kalimantan Timur. Kerajaan ini diperkirakan berdiri sekitar 1076 hingga 1557 Masehi dengan pengaruh Kesultanan Sulu. Wilayahnya strategis dan dikenal sebagai penghasil minyak bumi.
Selama ratusan tahun Tarakan berkembang sebagai kota yang cukup maju di Kalimantan. Posisinya di jalur pelayaran dan perdagangan antar daerah membuat hubungan Tarakan dengan wilayah lain sangat kuat.
1896: Titik Awal Tarakan Jadi Pusat Minyak Hindia Belanda
Sekitar 1896, minyak bumi pertama kali ditemukan di Tarakan. Perusahaan minyak milik pemerintah Hindia Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), menemukan sumber minyak dan langsung mengeksploitasinya.
Kegiatan produksi menuntut tenaga kerja, fasilitas, dan pengelolaan wilayah yang lebih terorganisir. Penduduk dari daerah sekitar maupun luar wilayah berdatangan untuk bekerja. Tarakan yang semula kawasan pesisir berubah menjadi pusat industri minyak.
Arsip Australian War Memorial menyebut Tarakan sebagai salah satu pusat produksi minyak penting di Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Selain minyak bumi berkualitas tinggi, Belanda membangun lapangan terbang yang membuat Tarakan semakin strategis.
Januari 1942: Jepang Rebut Fasilitas Minyak dari Belanda
Pentingnya fasilitas minyak di Tarakan memicu Jepang memperluas kekuasaan di Asia Tenggara. Pasukan Jepang menduduki Tarakan pada Januari 1942 setelah menyerang untuk merebut fasilitas minyak dari tangan Belanda.
Selama pendudukan, kegiatan industri minyak tetap berjalan. Kehidupan masyarakat Tarakan berlangsung di tengah situasi perang dan kekuasaan militer. Tiga tahun kemudian, pulau ini kembali jadi sasaran operasi militer Australia.
1 Mei 1945: Operasi Oboe One dan Pertempuran Berminggu-minggu
Pada 1 Mei 1945, pasukan Australia dari Divisi ke-9 mendarat di Tarakan dalam operasi Oboe One. Pendaratan itu menjadi yang pertama dari rangkaian operasi pembebasan Borneo. Salah satu tujuannya merebut lapangan terbang untuk mendukung operasi militer berikutnya.
Pendaratan berlangsung lancar, tetapi pasukan Jepang sudah menunggu di sejumlah posisi pedalaman dengan amunisi. Pertempuran berlangsung berminggu-minggu dan merusak fasilitas minyak serta lapangan terbang di Tarakan.
Sebanyak 225 tentara Australia tewas dalam pertempuran Tarakan. Lebih dari 1.500 personel Jepang juga tewas dalam perebutan wilayah ini. Pasukan Australia akhirnya berhasil merebut Tarakan pada Juni 1945.
Dari Kewedanan hingga Resmi Jadi Kotamadya pada 1997
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Tarakan belum langsung sepenuhnya berada di bawah pemerintahan Indonesia. Baru setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, Tarakan masuk wilayah Republik Indonesia dan tergabung dalam Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur.
Pada masa awal pemerintahan Indonesia, Tarakan berstatus kewedanan sebelum diubah menjadi Kecamatan Tarakan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1963. Statusnya ditingkatkan menjadi Kota Administratif lewat Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1981.
Melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1997 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Tarakan, Tarakan resmi menyandang status kotamadya. Kini Tarakan menjadi salah satu kota penting di Kalimantan Utara, provinsi yang dibentuk pada 2012 dan menjadi provinsi termuda di Pulau Kalimantan.