Pencarian

2.533 Anak di Bulungan Masuk Data Tak Sekolah, 1.050 Belum Pernah Duduk di Bangku Kelas

Selasa, 29 September 2026 • 09:16:01 WIB
2.533 Anak di Bulungan Masuk Data Tak Sekolah, 1.050 Belum Pernah Duduk di Bangku Kelas
Anak-anak bermain di kawasan permukiman di Tanjung Selor, Bulungan.

TANJUNG SELOR — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan mencatat 1.050 anak dari total 2.533 ATS belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali. Kelompok terbesar kedua adalah anak yang putus sekolah atau drop out sebanyak 843 anak.

Sisanya, 647 anak tercatat sudah lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Angka-angka itu dihimpun dari basis data ATS per 21 September 2026.

1.287 Anak Sudah Diverifikasi, 1.246 Masih Menunggu

Pemutakhiran data belum tuntas. Dari 2.533 anak yang masuk basis data, baru 1.287 anak yang sudah diverifikasi. Sebanyak 1.246 anak lainnya masih menunggu proses serupa.

Perbedaan status verifikasi itu membuat penanganan belum bisa dilakukan serentak. Disdikbud menyebut setiap anak perlu dilihat kasus per kasus sebelum ditentukan intervensinya.

Anak Berjualan Malam Jadi Perhatian di Tanjung Selor

Aktivitas anak usia sekolah yang masih membantu berjualan hingga larut malam di sejumlah kawasan Tanjung Selor menjadi sorotan tersendiri. Kondisi itu dinilai berpotensi mengganggu waktu belajar dan istirahat anak.

Anak yang seharusnya mengikuti pembelajaran pada siang hari masih harus membantu orang tua mencari penghasilan pada malam hari. Jika berlangsung terus-menerus, kehadiran dan konsentrasi anak di sekolah dikhawatirkan menurun.

Kepala Disdikbud Bulungan, Suparmin, menegaskan aktivitas berjualan perlu dilihat dari kondisi pendidikan masing-masing anak.

"Jangan sampai aktivitas anak membantu berjualan justru membuat sekolahnya terganggu. Mereka tetap perlu mendapatkan waktu yang cukup untuk belajar dan beristirahat," kata Suparmin, Selasa (29/9/2026).

Ekonomi Keluarga Disebut Jadi Salah Satu Pemicu

Persoalan ini tidak berdiri sendiri. Kondisi ekonomi keluarga disebut sebagai salah satu alasan anak ikut membantu orang tua mencari penghasilan.

Suparmin menilai penanganannya membutuhkan keterlibatan orang tua dan sejumlah pihak terkait. Tujuannya agar kebutuhan ekonomi keluarga tidak membuat pendidikan anak terabaikan.

"Kalau anak masih dalam usia sekolah, orang tua juga harus memastikan kegiatan membantu mencari penghasilan tidak menghilangkan kesempatan anak untuk bersekolah," ujarnya.

Perluasan Akses Sekolah Jadi Langkah Pencegahan

Pemerintah daerah menjalankan sejumlah langkah agar anak yang mengalami kendala pendidikan tidak masuk kelompok ATS. Di antaranya memperluas akses sekolah dan menambah ruang kelas pada sekolah yang mengalami kepadatan.

Upaya itu dinilai penting karena ribuan anak yang masih tercatat dalam basis data ATS menunjukkan persoalan pendidikan bukan semata soal ketersediaan sekolah. Ada kondisi lain yang membuat anak sulit bertahan di bangku kelas.

Suparmin menyebut pihaknya bersama sejumlah instansi melakukan penanganan lintas sektor. Setiap anak yang ditemukan memiliki persoalan pendidikan akan dilihat penyebabnya lebih dulu.

"Untuk anak-anak yang ditemukan memiliki persoalan pendidikan, kami berupaya melihat penyebabnya terlebih dahulu. Setelah itu baru ditentukan langkah yang bisa dilakukan supaya mereka kembali mendapatkan layanan pendidikan," pungkasnya.

Follow infobulungan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: benuanta.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks