TANJUNG SELOR — Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltara Yuan Erenst Sukawatie menegaskan bahwa masker bedah standar tidak lagi memadai untuk kondisi udara yang terpapar asap karhutla. Partikel halus berukuran sangat kecil, atau Particulate Matter (PM) 2,5, disebut mampu menembus jaringan masker biasa dan masuk jauh ke dalam sistem pernapasan manusia.
“Untuk kondisi kabut asap seperti sekarang, kami menganjurkan masyarakat menggunakan masker N95. KN95 dan KF94 juga bisa digunakan karena memiliki kemampuan filtrasi yang tinggi,” ujar Yuan di Tanjung Selor, Sabtu.
Risiko ISPA, Asma, hingga Kanker Paru di Tengah Kabut Asap
Yuan menjelaskan, paparan polusi udara akibat karhutla tidak hanya memicu iritasi ringan. Ancaman kesehatan jangka pendek dan panjang mengintai, mulai dari pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga memperburuk kondisi penderita asma dan risiko kanker paru.
“Penggunaan masker tersebut penting untuk mengurangi paparan partikel halus yang terkandung dalam asap kebakaran,” katanya menegaskan.
Lansia dan Penderita Penyakit Sensitif Diminta Batasi Aktivitas di Luar Rumah
Kelompok rentan menjadi perhatian khusus dalam imbauan ini. Warga lanjut usia (lansia) serta mereka yang memiliki riwayat penyakit sensitif terhadap polusi udara diminta untuk lebih disiplin menjaga diri.
“Kelompok rentan sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah. Kalau memang harus keluar, gunakan masker yang sesuai dan pastikan terpasang rapat,” pesan Yuan.
Selain penggunaan masker, Dinkes Kaltara juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal. Membasahi halaman rumah dengan air disebut efektif untuk mencegah debu beterbangan, diikuti dengan pembersihan rutin lantai, jendela, dan ventilasi udara di dalam rumah.
“Kami berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan bersama-sama menjaga kesehatan selama kondisi udara belum membaik,” pungkasnya.