Pencarian

Empat LSM Soroti Dampak PLTU Batu Bara di Kawasan Industri Hijau Bulungan, Nelayan Kehilangan 90 Persen Tangkapan Ikan Teri

Kamis, 30 Juli 2026 • 10:48:01 WIB
Empat LSM Soroti Dampak PLTU Batu Bara di Kawasan Industri Hijau Bulungan, Nelayan Kehilangan 90 Persen Tangkapan Ikan Teri
Tangkapan ikan teri nelayan di pesisir Bulungan menurun drastis dari 200–300 kilogram menjadi sekitar 10 kilogram per malam.

JAKARTA — Narasi industri hijau di Kalimantan Utara kembali diuji. NUGAL Institute for Social and Ecological Studies, Perkumpulan Lingkar Hutan Lestari (PLHL), Trend Asia, dan Gerakan #BersihkanIndonesia merilis laporan yang menyoroti dampak operasional PLTU captive milik PT Kaltara Power Indonesia (KPI), anak usaha grup ADARO/AlamTri Resources, di kawasan KIPI Bulungan.

Laporan tersebut diluncurkan pada Selasa (29/7) di Rumah Jurnalisme AJI Indonesia, Kwitang, Jakarta. Para peneliti menilai proyek yang masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN) ini telah menimbulkan tekanan terhadap ruang hidup masyarakat di Tanah Kuning dan Mangkupadi.

Hasil Tangkapan Nelayan Anjlok hingga 90 Persen

Salah satu temuan paling mencolok adalah kondisi nelayan di pesisir Bulungan. Data laporan menunjukkan tangkapan ikan teri yang sebelumnya mencapai 200 hingga 300 kilogram per malam kini hanya tersisa sekitar 10 kilogram. Sementara itu, hasil tangkapan kepiting rajungan turun dari 20-40 kilogram per hari menjadi sekitar 10 kilogram.

"Nelayan menghadapi tekanan ganda, yakni hasil tangkapan yang menurun dan harga kebutuhan pokok yang meningkat," kata Seny Ahmad dari NUGAL Institute dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Menurutnya, kondisi ini membuat sebagian nelayan mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan profesinya. Penghasilan yang diperoleh dinilai tidak lagi sebanding dengan biaya operasional melaut dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Polusi Udara dan Ancaman Ekosistem Pesisir

Selain sektor perikanan, laporan itu juga menyoroti potensi dampak kesehatan akibat aktivitas industri dan PLTU batu bara captive. Masyarakat disebut berpotensi terpapar polutan udara seperti PM2.5, nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2) secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, paparan ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan masalah kesehatan lainnya.

Di sektor lingkungan, aktivitas industri dan lalu lintas kapal dinilai memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir. Ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang disebut menghadapi ancaman akibat meningkatnya aktivitas di kawasan tersebut. Para peneliti juga khawatir gangguan terhadap kawasan pesisir akan mengganggu jalur migrasi berbagai spesies laut dan mengurangi keanekaragaman hayati.

Kritik terhadap Manipulasi Bahasa 'Hijau'

Para peneliti menilai proyek ini menjadi contoh bagaimana ketergantungan pada energi fosil dipertahankan dengan menggunakan bahasa yang lebih dapat diterima publik. "Kehadiran PLTU batu bara captive yang dibangun justru memperburuk keselamatan manusia dan alam. Ini merupakan bentuk baru mempertahankan ketergantungan pada energi fosil dengan manipulasi bahasa yang lebih dapat diterima," ujar Zakki Amali dari Trend Asia.

Laporan tersebut juga menyoroti jejaring bisnis dan kekuasaan di balik proyek ini. Para peneliti menelusuri konsolidasi kepentingan antara bisnis energi, industri ekstraktif, dan kekuasaan politik. Mereka menilai manfaat ekonomi lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sementara risiko sosial dan ekologis ditanggung masyarakat di tingkat tapak.

Selain PLTU captive, kawasan KIPI juga akan memperoleh pasokan listrik dari proyek pembangkit tenaga air skala besar di Kalimantan. Berdasarkan temuan, kedua sumber energi tersebut masih menyisakan persoalan sosial dan ekologis yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah.

Bagikan
Sumber: eksposkaltim.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks