KALIMANTAN UTARA — Babak kualifikasi Porseni PNM 2026 berlangsung serentak di enam kota: Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, dan Bandung. Skala penyelenggaraan yang luas ini sengaja dirancang untuk mempertemukan karyawan dari berbagai daerah dalam satu arena, baik lapangan olahraga maupun panggung seni.
Sportivitas di Lapangan, Integritas di Kantor
Direktur Utama PNM Kindaris menegaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar agenda seremonial. Menurutnya, nilai sportivitas, integritas, dan kemampuan menghargai proses yang terbentuk selama pertandingan adalah modal utama saat karyawan kembali bertugas mendampingi nasabah di lapangan.
"Bagi saya, Porseni bukan sekadar agenda tahunan perusahaan. Lebih dari itu, Porseni adalah ruang untuk merawat nilai-nilai yang selama ini menjadi kekuatan PNM," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7).
Budaya Kerja Sehat untuk Produktivitas
PNM meyakini produktivitas kerja tidak hanya diukur dari pencapaian target bisnis semata. Perusahaan menilai lingkungan kerja yang sehat, yang dibangun melalui pengalaman bersama seperti Porseni, dapat mendorong karyawan memberikan kontribusi terbaik mereka secara berkelanjutan.
Kindaris menambahkan, kemenangan paling bernilai dalam ajang ini bukanlah trofi, melainkan penanaman karakter tangguh yang akan diimplementasikan saat melayani nasabah. "Bukan hanya tentang siapa yang menang, lebih dari itu ada makna tentang sportivitas, integritas, dan kemampuan menghargai proses adalah kemenangan yang jauh lebih bernilai," tuturnya.
Dampak Langsung ke Jutaan Perempuan Ultra Mikro
Peningkatan kualitas pelayanan ini difokuskan khususnya bagi perempuan pengusaha ultra mikro yang menjadi sasaran utama pemberdayaan PNM. Perusahaan percaya bahwa karyawan yang bahagia dan bangga terhadap instansinya akan terdorong untuk memberikan layanan terbaik kepada masyarakat.
Melalui pendekatan ini, PNM mengingatkan bahwa budaya perusahaan tidak dibentuk dari ruang kerja semata, melainkan juga dari lapangan pertandingan dan panggung seni yang mempertemukan karyawan dari berbagai daerah. Pada akhirnya, tingkat produktivitas terbaik perusahaan tidak hanya diukur berdasarkan angka capaian bisnis, tetapi juga dari bagaimana setiap karyawan dapat tumbuh bersama, saling menginspirasi, dan menjaga visi misi perusahaan.