Pencarian

Model AI Open Source Makin Populer, Tapi Belum Menggerus Pendapatan Anthropic

Rabu, 08 Juli 2026 • 03:14:31 WIB
Model AI Open Source Makin Populer, Tapi Belum Menggerus Pendapatan Anthropic
CEO Decagon Jesse Zhang menyoroti siklus hidup model AI open source dan frontier dalam implementasi perusahaan.

KALIMANTAN UTARA — Pekan lalu, CEO Decagon Jesse Zhang memicu diskusi di kalangan pelaku industri AI lewat sebuah teori yang ia publikasikan. Dalam tulisannya berjudul "Everyone is wrong about open source AI in the enterprise," Zhang mengamati kontradiksi menarik: semakin matang sebuah implementasi AI di perusahaan, semakin besar kecenderungan mereka beralih ke model yang lebih ringan dan murah. Namun, anehnya, total belanja untuk model AI termahal dan tercanggih—yang disebut model frontier—hampir tidak bergerak.

Bagi Zhang, model open source dan model frontier bukanlah pesaing. Keduanya adalah dua fase dari satu siklus hidup yang sama. Model frontier yang mahal berfungsi sebagai alat pembuktian konsep (proof of concept) untuk kasus penggunaan baru. Begitu kasus tersebut matang dan kebutuhan komputasinya sudah terpetakan, barulah perusahaan beralih ke model open source yang lebih ekonomis.

"Model frontier akan terus menguasai fase penemuan. Open source akan semakin mendominasi fase produksi," ujar Zhang dalam tulisannya.

Data Pendukung: Volume vs. Biaya

Meski Zhang tidak menyertakan banyak data, angka dari berbagai platform infrastruktur AI menguatkan teorinya. Dashboard AI Gateway milik Vercel menunjukkan bahwa hanya dalam sepekan terakhir, DeepSeek melesat memimpin dalam volume token yang diproses—kini menangani lebih dari sepertiga total token di infrastruktur perusahaan tersebut. Z.ai, laboratorium di balik model GLM-5.2, juga naik ke posisi keempat pada periode yang sama.

Namun, ketika dilihat dari total pengeluaran (spend), ceritanya berbeda. Di platform yang sama, Anthropic masih mendominasi dengan porsi lebih dari setengah total belanja AI. Meski pangsa ini sedikit turun dalam sebulan terakhir karena kenaikan harga model Anthropic sendiri, dominasinya belum tergoyahkan.

Platform OpenRouter, yang menjangkau segmen pasar lebih luas namun sedikit kurang enterprise, mencatat cerita serupa. DeepSeek V4Flash menjadi penguasa volume dengan 5,3 triliun token per minggu. Sebagai perbandingan, model frontier terpopuler, Opus 4.8, hanya memproses 2 triliun token. Namun, biaya rata-rata per token Opus 4.8 adalah 23 kali lebih mahal dari V4Flash—US$1,37 per juta token berbanding US$0,06. Artinya, Opus 4.8 kemungkinan besar tetap menangkap porsi terbesar dari total pengeluaran.

Mengapa Model Premium Belum Tergantikan?

Ada dua penjelasan utama mengapa model frontier masih kebal terhadap serbuan model open source. Pertama, pasar untuk tugas-tugas yang bisa diselesaikan AI tumbuh sangat cepat. Model frontier mampu mempertahankan posisinya dengan mendominasi implementasi tahap awal. Kedua, banyak kasus penggunaan yang sangat kompleks sehingga tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh alternatif yang lebih murah.

Kondisi ini menciptakan ekonomi AI dua tingkat yang mungkin akan menjadi fitur stabil dalam industri ini. Model premium memegang kendali atas segmen pasar paling bernilai: harga token premium.

Dampak bagi Pasar AI Global dan Indonesia

Bagi perusahaan teknologi di Indonesia yang mulai mengadopsi AI, pola ini memberikan gambaran strategi yang jelas. Untuk eksperimen dan validasi ide baru, menggunakan model frontier seperti milik Anthropic atau OpenAI masih menjadi pilihan paling aman. Setelah solusi terbukti dan skalanya membesar, migrasi ke model open source seperti DeepSeek atau GLM bisa dilakukan untuk menekan biaya operasional.

Model anyar dari Nvidia, Nemotron, juga disebut-sebut siap melesat ke depan berkat koneksi kuat Nvidia dan kemampuan adaptasinya yang ekstrem. Namun, hingga saat ini, laboratorium frontier seperti Anthropic belum perlu khawatir. Selama pasar terus berkembang dan model premium tetap menjadi pintu gerbang penemuan kasus penggunaan baru, pendapatan mereka akan tetap terjaga.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks