KALIMANTAN UTARA — PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan belum bisa mengonfirmasi kabar yang menyebut perseroan sebagai kandidat pembeli mayoritas saham tambang batu bara Kideco Jaya Agung milik PT Indika Energy Tbk (INDY). Nilai transaksi yang disebut-sebut beredar menembus US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,92 triliun. Emiten Grup Bakrie itu menegaskan setiap perkembangan material akan diungkap sesuai aturan keterbukaan informasi.
Direktur BUMI, R. A. Sri Dharmayanti, menyatakan perseroan tidak dapat memberi komentar atas rumor pasar maupun transaksi yang bersifat hipotesis. Pernyataan itu disampaikan melalui Keterbukaan Informasi, Selasa (13/10/2026), menanggapi pemberitaan yang mengaitkan BUMI dengan rencana pembelian tambang batu bara termal Kideco Jaya Agung.
Sri menegaskan, setiap perkembangan korporasi yang material akan diungkapkan sesuai peraturan dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku. Ia juga menyoroti karakter aset yang disebut dalam pemberitaan, yakni tambang batu bara termal.
"Adapun aset yang disebutkan dalam pemberitaan merupakan aset batubara termal. Apabila terdapat informasi atau fakta material, Perseroan akan menyampaikannya sesuai dengan peraturan yang berlaku," jelas Sri.
Sri menjelaskan, diversifikasi usaha di luar batu bara termal telah menjadi bagian dari arah strategis BUMI. Pernyataan itu memberi sinyal bahwa perseroan sedang mengarahkan portofolio ke sektor selain batu bara termal.
Kideco Jaya Agung sendiri merupakan tambang batu bara termal yang beroperasi di Kalimantan Timur. Aset ini tercatat memiliki izin penambangan khusus yang berlaku hingga 2033, dengan sumber daya sebesar 1,5 miliar ton dan cadangan 468 juta ton berdasarkan laporan JORC Desember 2023.
Pada 2022, tambang ini memproduksi sekitar 34,8 juta ton batu bara. Sepanjang semester I-2026, produksinya mencapai 15,2 juta ton, naik dari 14,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kabar penjualan mayoritas saham Kideco Jaya Agung pertama kali mencuat dari laporan Deal Street Asia. BUMI disebut sebagai salah satu kandidat potensial dalam transaksi tersebut, dengan nilai perkiraan lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,92 triliun menggunakan asumsi kurs Rp 17.928.
Kideco Jaya Agung mencatatkan pendapatan US$ 855,1 juta pada semester I-2026. Angka itu berkontribusi sekitar 71,9% dari pendapatan kotor INDY, sehingga posisi tambang ini sangat sentral bagi kinerja keuangan Indika Energy.
Saat ini INDY menggenggam 91% saham Kideco Jaya Agung, sementara 9% sisanya dimiliki Samtan Co. Ltd. Harga jual rata-rata batu bara Kideco secara FOB pada semester I-2026 meningkat 6,8% secara tahunan menjadi US$ 54,7 per ton. Biaya tunai termasuk royalti naik 2,9% menjadi US$ 46,5 per ton.
Bagi investor, pernyataan BUMI menegaskan bahwa belum ada keputusan korporasi yang final terkait akuisisi aset batu bara termal. Pasar masih menunggu apakah BUMI benar-benar masuk sebagai pembeli atau hanya satu dari sejumlah kandidat yang disebut dalam laporan media asing.
Posisi Kideco sebagai penyumbang terbesar pendapatan INDY membuat setiap perubahan kepemilikan saham berpotensi mengubah lanskap bisnis kedua emiten. Jika transaksi benar terjadi, struktur pendapatan INDY akan bergeser signifikan, sementara BUMI menghadapi pertanyaan soal kesesuaian akuisisi ini dengan arah diversifikasi yang diklaim perseroan.
Hingga pernyataan itu disampaikan, BUMI belum mengungkapkan informasi atau fakta material apa pun terkait rencana pembelian saham Kideco Jaya Agung.