TARAKAN — Lapas Kelas IIA Tarakan tidak lagi hanya menjadi tempat menjalani hukuman. Lembaga pemasyarakatan di Kalimantan Utara itu kini menjadikan pendidikan kesetaraan sebagai senjata utama untuk menekan angka residivisme atau pengulangan tindak pidana oleh mantan narapidana.
Program pendidikan kesetaraan yang digulirkan Lapas Tarakan mencakup tiga jenjang: Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Warga binaan yang mengikuti program ini mendapat pengajaran dari tutor yang sudah ditunjuk pihak lapas bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat.
Mereka belajar di dalam blok hunian yang disulap menjadi ruang kelas sederhana. Jadwal belajar diatur agar tidak mengganggu kegiatan pembinaan lainnya seperti olahraga dan keterampilan vokasional.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan menyebut bahwa sebagian besar narapidana yang kembali berulah tidak memiliki bekal pendidikan atau keterampilan kerja. Dengan mengikuti program kesetaraan, warga binaan diharapkan memiliki ijazah resmi yang diakui negara.
"Ijazah ini bisa jadi syarat administrasi saat mereka melamar kerja nanti. Kami ingin mereka punya pilihan hidup yang lebih baik setelah bebas, bukan kembali ke jalan yang salah," ujar Kepala Lapas Tarakan.
Setiap warga binaan yang mendaftar menjalani tes diagnostik terlebih dahulu untuk menentukan level pendidikan yang sesuai. Setelah itu, mereka mengikuti proses belajar mengajar selama beberapa bulan hingga siap mengikuti ujian kesetaraan yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tarakan.
Bagi yang lulus, ijazah yang diterbitkan memiliki legalitas yang sama dengan ijazah sekolah formal. Nilai ujian pun tercatat dalam sistem data pokok pendidikan nasional.
Keterbatasan jumlah tenaga pengajar menjadi kendala utama. Tutor yang ada harus merangkap mengajar beberapa kelas sekaligus. Selain itu, tidak semua warga binaan memiliki motivasi belajar yang tinggi karena faktor usia atau trauma masa lalu terhadap dunia pendidikan.
Pihak lapas mengakui perlu pendekatan khusus untuk membujuk narapidana agar mau kembali duduk di bangku kelas. "Kami libatkan warga binaan yang sudah lulus sebagai motivator bagi teman-temannya," tambah Kepala Lapas.
Program pendidikan kesetaraan di Lapas Tarakan sudah berjalan sejak awal 2025 dan terus mengalami peningkatan jumlah peserta setiap semester. Beberapa warga binaan yang sudah dinyatakan bebas dan lulus program ini dilaporkan sudah bekerja di sektor informal maupun formal di Tarakan dan sekitarnya.
Lapas Tarakan berencana memperluas kerja sama dengan perusahaan daerah untuk menyalurkan lulusan program kesetaraan. Langkah ini diharapkan memutus mata rantai residivisme di Kalimantan Utara secara bertahap.