KALIMANTAN UTARA — Wuling Motors resmi memperkenalkan sistem penggerak Eksion PHEV yang mengombinasikan mesin 1.5L dedicated hybrid engine, transmisi Dedicated Hybrid Transmission (DHT), dan baterai berkapasitas 20,5 kWh. Kombinasi ini menghasilkan jarak tempuh listrik murni hingga 125 km dan total jarak tempuh lebih dari 1.000 km berdasarkan siklus CLTC.
Product Communication Manager Wuling Motors, Danang Wiratmoko, menjelaskan bahwa sistem hybrid Eksion sebenarnya bekerja adaptif. "Antara seri dan paralel itu nanti akan otomatis mengikuti kondisi berkendaraan, mengikuti bagaimana berubah kerja secara real time," ujarnya. Namun, pengemudi tetap bisa memilih preferensi penggunaan energi melalui empat mode yang tersedia.
Mode EV Max dirancang untuk memaksimalkan penggunaan energi listrik secara penuh. Jika memulai perjalanan dengan baterai 100%, sistem akan terus menggerakkan mobil hanya dengan motor listrik tanpa intervensi mesin bensin.
"Filosofinya adalah dia memanfaatkan dulu energi baterai," kata Danang. Baru setelah daya baterai menyentuh batas limit 12%, mobil secara otomatis beralih ke mode hybrid. Mode ini cocok untuk pengguna yang memiliki akses charging rutin di rumah atau kantor.
Mode EV First memiliki pendekatan berbeda. Sistem akan menahan level daya baterai agar tidak turun lebih rendah dari kisaran 35%. Begitu menyentuh angka tersebut, mesin bensin langsung aktif membantu.
Mode ini menjadi pilihan tengah bagi pengemudi yang ingin tetap mengutamakan tenaga listrik namun masih memiliki cadangan baterai untuk situasi tertentu, misalnya saat memasuki kemacetan kota di akhir perjalanan.
Mode hybrid membuat sistem bekerja secara dinamis menyeimbangkan tenaga dari mesin bensin dan motor listrik. Perpindahan daya disesuaikan otomatis berdasarkan beban atau kebutuhan berkendara saat itu. Sensasi berkendara yang ditawarkan disebut Danang mirip mobil hybrid pada umumnya—halus, responsif, dan efisien.
Mode Fuel Priority merupakan kebalikan dari EV Max. Sistem justru memprioritaskan penggunaan mesin bensin sejak awal perjalanan. Tujuannya menjaga cadangan daya di dalam baterai agar tetap melimpah. Cadangan ini nantinya bisa digunakan saat dibutuhkan, misalnya saat memasuki area macet atau zona rendah emisi.
Menurut Danang, pengguna tidak perlu repot memilih mode secara detail setiap kali berkendara. "Kalau mau praktis, sebenarnya mau pilih EV First atau Hybrid, itu sudah sangat cukup sih," jelasnya.
Perbedaan mendasar Eksion dengan mobil hybrid biasa terletak pada keberadaan lubang pengisian daya. Eksion bisa dicolokkan ke listrik rumah atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) layaknya mobil listrik murni, tidak hanya mengandalkan regenerasi dari rem atau mesin.