KALIMANTAN UTARA — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 13 poin di level Rp 17.681 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5). Tekanan berlanjut hingga pukul 10.24 WIB, ketika kurs menyentuh Rp 17.724 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah tercatat mencapai 6,25%.
Pergerakan rupiah pagi ini dimulai dari posisi Rp 17.681. Dalam waktu kurang dari dua jam perdagangan, tekanan beli terhadap dolar AS mendorong kurs ke level Rp 17.724. Angka ini melampaui rekor terlemah sebelumnya yang sempat terjadi pada krisis 1998 dan awal 2024.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia kompak tertekan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi yang paling terpuruk dengan pelemahan 0,74%, disusul baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang 0,08%. Rupee India dan yuan China hanya melemah tipis masing-masing 0,04% dan 0,01%.
Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian ke hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan menjadi faktor utama yang membuat investor cenderung wait and see.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, meredanya kekhawatiran perang setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan ke Iran sempat memberi angin segar bagi mata uang Asia. Namun, sentimen itu tidak cukup kuat mendorong penguatan rupiah karena kondisi fundamental domestik masih dinilai lemah.
"Ekspektasi kenaikan BI rate membuat pelaku pasar berhati-hati. Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS hari ini," ujar Lukman.
Bagi importir, pelemahan rupiah ke level ini berarti biaya pengadaan bahan baku dan barang modal membengkak dalam hitungan jam. Perusahaan dengan utang dalam denominasi dolar AS juga harus menanggung beban kurs yang lebih berat.
Investor di pasar saham dan obligasi pun menghadapi ketidakpastian. Kenaikan suku bunga acuan, jika terjadi, akan menekan harga obligasi di pasar sekunder dan berpotensi menggeser alokasi aset dari saham ke instrumen pendapatan tetap. Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
Investasi mengandung risiko.