JAKARTA — Pasar saham domestik dibuka di bawah tekanan berat. IHSG langsung kehilangan 138,558 poin atau setara 2,06 persen, jatuh ke angka 6.584,762. Padahal pada sesi preopening, indeks sempat bertahan di level 6.628,976 setelah turun 1,40 persen.
Rupiah Ikut Tertekan di Depan Dolar AS
Di pasar valuta asing, mata uang Garuda tak berdaya. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, kurs rupiah terhadap dolar AS melemah 33 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp 17.630. Angka ini menandai level terlemah dalam beberapa waktu terakhir, memperkuat kekhawatiran investor terhadap stabilitas nilai tukar.
Bursa Asia Kompak Merah, China Jadi Satu-satunya yang Hijau
Tekanan jual tidak hanya terjadi di Indonesia. Hampir seluruh bursa utama Asia pagi ini bergerak di zona negatif. Indeks Nikkei 225 Jepang ambles 625,902 poin (1,02 persen) ke 60.783,398. Indeks Hang Seng Hong Kong juga terpangkas 274,500 poin (1,06 persen) ke 25.688,230. Sementara itu, indeks Straits Times Singapura turun 16,089 poin (0,32 persen) ke 4.972,990. Satu-satunya yang masih bertahan di zona hijau adalah indeks SSE Composite China yang naik tipis 2,399 poin (0,06 persen) ke 4.137,790.
Apa yang Memicu Aksi Jual Pagi Ini?
Pelemahan IHSG dan rupiah terjadi di tengah sentimen global yang masih tidak menentu. Pelaku pasar mencerna data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat serta prospek suku bunga acuan The Fed. Ketidakpastian ini mendorong investor melepas aset berisiko di pasar emerging market, termasuk Indonesia, dan beralih ke instrumen safe haven seperti dolar AS.
Meski demikian, analis menilai tekanan jual ini masih bersifat teknikal dan belum menandakan krisis fundamental. Pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan bergantung pada data inflasi AS dan keputusan bank sentral global. Investor disarankan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah sebagai indikator utama stabilitas pasar keuangan domestik.