KALIMANTAN UTARA — Roeg Sutherland, co-head departemen media finance sekaligus grup film internasional CAA, menyampaikan pandangan optimistis soal pasar film global dalam Zurich Summit. Ia menilai ketersediaan dana saat ini jauh lebih besar dibanding sebelumnya, terutama berkat pertumbuhan private equity dari Timur Tengah, Asia, hingga Eropa. Sutherland juga menyoroti bagaimana penonton Amerika kini makin terbuka menonton film internasional bersubtitle.
Roeg Sutherland berbicara di Zurich Summit pada Sabtu pagi waktu setempat. Ia menyoroti perubahan lanskap pembiayaan film yang kian bergantung pada equity, bukan sekadar subsidi pemerintah.
Menurut Sutherland, model pembiayaan lama yang mengandalkan dana pemerintah kini menghadapi tantangan baru. Ia menyebut pelaku industri Eropa mulai menghadapi situasi yang sudah lama dialami produser Amerika.
Pergeseran ke Equity dan Pre-Sales
"It was great when we did not need equity in these movies," ujar Sutherland saat membahas pertumbuhan dana swasta di bisnis film, khususnya di Eropa.
Ia menilai pre-sales masih mungkin dilakukan untuk paket yang tepat dengan sutradara yang tepat, meski subjeknya menantang. Namun ia menegaskan bahwa subsidi pemerintah saja tidak lagi cukup untuk membiayai sebuah film.
"You need equity. The good news is that there's more money out there than there ever was," lanjutnya.
Sutherland mencatat dana equity kini mengalir dari Timur Tengah, Asia, bahkan Eropa. Ia juga melihat munculnya peluang baru di segmen film lokal yang sebelumnya sulit diakses.
Penonton Amerika dan Film Internasional
Salah satu poin utama yang diangkat Sutherland adalah pergeseran perilaku penonton Amerika. Ia menyebut penonton AS kini menonton konten internasional dengan subtitle, sesuatu yang tidak terjadi tujuh tahun lalu.
"When you see 'Squid Game' performing well, American audiences are watching Korean content and they're watching it with subtitles," katanya.
Ia menambahkan CAA kini membeli film Eropa untuk dijual kembali di pasar dengan harga lebih tinggi dibanding film Amerika. Sutherland menyebut hal ini sebagai peluang besar yang harus disambut industri.
"American audiences watch international movies; that was never true seven years ago," tegasnya. "So there is a market, and we should be excited about it."
Kasus La Bola Negra dan Obsession
Sutherland menyoroti pencapaian CAA dalam menjual "La Bola Negra" karya Javier Ambrossi dan Javier Calvo yang tampil di Cannes. Ia menyebut film tersebut terjual dengan harga lebih tinggi dibanding film Amerika.
Ia juga menyinggung keberhasilan "Obsession" karya Curry Barker yang sempat dijual rekannya sebelum menjadi fenomena box office. Sutherland mengaku timnya tidak menyangka film itu akan sebesar sekarang.
Bagi CAA, sutradara tetap menjadi faktor penentu utama dibanding IP atau genre. "That's the central figure that decides if a movie is going to be good or bad, and that is the person that you're ultimately betting on," ujarnya.
Tantangan Studio dan Peluang Baru
Sutherland menilai studio tradisional kini enggan berinvestasi dalam pengembangan ide. Hal ini memunculkan pertanyaan soal dari mana ide-ide baru akan lahir.
Ia menyebut creator economy akan menjadi kekuatan utama dalam menghasilkan ide, bukan hanya film horor yang sukses besar. CAA sendiri mulai masuk ke pembiayaan film internasional seperti "Emilia Pérez" karya Jacques Audiard dan "Fjord" karya Cristian Mungiu.
"That would never have been an opportunity for us," kata Sutherland. "So it's troubling how the market is shrinking, but there is so much opportunity for people and investors to recognize that."
Pasar film global memang tengah menyusut, tetapi bagi CAA dan investor, celah pertumbuhan justru terbuka lebar lewat film internasional dan dana equity yang terus mengalir.