TARAKAN — Kabut asap yang menyelimuti Tarakan membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar gangguan kesehatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan menjelaskan bahwa partikel kering dari sisa pembakaran tersebut menghambat proses penguapan air, yang berujung pada terganggunya pembentukan awan di atmosfer.
M. Sulam Khilmi menjelaskan, partikel asap berbeda dengan uap air. Saat permukaan laut dan daratan tertutup asap, panas matahari tidak optimal menguapkan air, sehingga suplai uap air ke atmosfer berkurang. Padahal, uap air merupakan bahan baku utama terbentuknya awan hujan.
"Penguapan air laut oleh matahari ini sedikit kurang maksimal karena permukaan laut maupun daratan diselubungi asap. Asap ini berbeda dengan air, asap adalah partikel kering yang tidak bisa menjadi uap," jelasnya.
Suhu Udara dan Jarak Pandang di Tarakan
Meski proses pembentukan awan terganggu, BMKG memastikan Tarakan tidak mengalami suhu ekstrem. Suhu udara di kota ini tercatat berada di kisaran 31 hingga 33 derajat Celsius, angka yang masih dinilai normal.
Dari sisi penerbangan, jarak pandang di Tarakan masih relatif aman. Data BMKG mencatat jarak pandang terdekat mencapai 4 kilometer pada periode 10 hingga 25 Agustus 2026, sementara kondisi terkini jarak pandang berada di sekitar 8 kilometer.
"Sampai saat ini, jarak pandang terdekat yang kita catat di Tarakan itu 4.000 meter, masih dalam batas yang aman untuk aktivitas penerbangan," ujarnya.
Potensi Kiriman Asap dari Provinsi Tetangga
Khilmi mengingatkan bahwa Tarakan tetap berpotensi menerima dampak asap dari wilayah lain di Kalimantan. Arah angin dominan yang bergerak dari selatan hingga tenggara menuju utara menjadi jalur masuknya asap dari provinsi tetangga.
Kekhawatiran ini muncul karena jumlah titik panas atau hotspot di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah tercatat lebih banyak dibandingkan Kalimantan Utara. "Tidak menutup kemungkinan kita juga mendapat dampak dari kebakaran hutan yang terjadi di provinsi lain," terangnya.
BMKG mencatat satu hotspot di wilayah Tarakan dengan tingkat kepercayaan atau confidence level berada pada kategori medium, yakni sekitar 20 hingga 80 persen. Secara keseluruhan di Kalimantan Utara, terdapat 61 hotspot. Dari jumlah tersebut, dua hotspot masuk kategori low atau rendah, sedangkan 59 lainnya berada pada kategori medium atau sedang.
Waspada Periode Hari Tanpa Hujan
Masyarakat diminta mewaspadai kabut asap karena Tarakan saat ini tengah mengalami periode hari tanpa hujan yang lebih panjang dari biasanya. Hari tanpa hujan tercatat mencapai 6 hingga 10 hari, sementara karakteristik normal Tarakan selama ini berada di bawah lima hari.
Kondisi ini membuat permukaan tanah lebih mudah kering dan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran di tempat terbuka yang berpotensi memicu kebakaran.
"Mohon selalu waspada terhadap perubahan cuaca, termasuk fenomena kebakaran hutan dan lahan yang memicu asap. Kami mengimbau untuk tidak melakukan pembakaran di tempat-tempat terbuka yang bisa membahayakan hutan dan lahan," tutupnya.
Masyarakat juga diminta menjaga kesehatan dan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan apabila jarak pandang mulai menurun akibat kabut asap.