TARAKAN — Ancaman ambruknya badan jalan di kawasan Jalan Amal Lama, Tarakan, kian nyata. Kebakaran batu bara yang terjadi di bawah permukaan tanah telah menciptakan rongga yang terus meluas dan kini hanya berjarak sekitar 4 meter dari badan jalan.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, menyebut kebakaran kali ini merupakan yang terbesar dibandingkan kejadian serupa sebelumnya di lokasi tersebut. Bagian permukaan yang terbuka akibat kebakaran mencapai 6 meter, dengan rongga material yang terbakar memanjang 3 meter secara horizontal dan kedalaman sekitar 2 meter.
Rongga di Bawah Tanah Mengancam Struktur Jalan
Proses pembakaran material batu bara di bawah tanah membuat struktur tanah menjadi tidak stabil. Jika dibiarkan, rongga tersebut akan terus meluas hingga mencapai lapisan di bawah aspal.
"Kalau tidak segera diambil keputusan, itu bisa membentuk rongga dan jalan bisa jatuh. Itu bisa mengakibatkan ada yang jatuh di sana," ujar Yonsep kepada awak media, Selasa (20/8/2024).
Kondisi ini menjadi dasar bagi Pemerintah Kota Tarakan untuk segera mengambil langkah, termasuk opsi penutupan akses jalan di titik rawan tersebut demi keselamatan pengendara.
Bukan Kebakaran Pertama, Titik yang Sama Terjadi Dua Kali Setahun
Kebakaran batu bara di kawasan ini bukanlah peristiwa baru. Yonsep menjelaskan, lokasi yang sama pernah terbakar pada 2019. Sepanjang tahun ini saja, kebakaran di titik tersebut tercatat terjadi dua kali, yakni pada Juli dan Agustus.
"Kalau yang tempat tadi baru dua kali, di bulan Juli sama Agustus," jelasnya.
Perbedaan signifikan terjadi pada kejadian Agustus ini. Jika kebakaran Juli lebih banyak menghabiskan lahan di permukaan, kali ini api telah mencapai lapisan batu bara di bawah tanah. Kekeringan yang berkepanjangan disebut menjadi pemicu utama material di kedalaman tersebut ikut terbakar.
Penyiraman Air Biasa Tak Cukup, Butuh Penanganan Khusus
Penanganan kebakaran batu bara bawah tanah tidak bisa disamakan dengan kebakaran lahan biasa. Material yang terbakar berada di dalam rongga, sehingga metode penyiraman air dari permukaan dinilai tidak efektif untuk menjangkau titik api.
Untuk langkah lanjutan, BPBD Tarakan akan mendampingi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tarakan yang ditugaskan menangani kondisi di lokasi. BPBD tetap bersiaga di lapangan untuk mengantisipasi perkembangan kebakaran yang berpotensi meluas.
Selain penanganan darurat, pemerintah berencana membangun kolam penampungan air di sekitar lokasi. Fasilitas itu diharapkan menjadi sumber pasokan air yang memadai untuk membantu proses pemadaman apabila kebakaran kembali meluas di masa mendatang.