KALIMANTAN UTARA — Pameran ini bukan sekadar etalase trofi. Lebih dari itu, "Cultura Persib" menjadi ruang refleksi bagaimana sebuah klub sepak bola bisa menjelma menjadi denyut nadi budaya masyarakat Jawa Barat. Owner Grey Art Gallery, Elia Yoesman, menegaskan bahwa Persib telah melampaui fungsi olahraga.
95 Karya dari Beragam Perspektif: Dari Arsip Hingga Instalasi Visual
Koleksi yang dipamerkan mencakup seni rupa, mural, instalasi visual, hingga jersey bersejarah. Tak ketinggalan, arsip sejarah dan memorabilia puluhan tahun ikut menghiasi ruang pamer. Semua karya ini merupakan hasil kolaborasi para seniman dan kolektor yang ingin mengabadikan kisah perjuangan Maung Bandung.
Pengunjung diajak menelusuri perjalanan Persib lintas generasi. Mulai dari sejarah awal klub, kultur Bobotoh yang khas, identitas Kota Bandung, hingga puncak kejayaan di era Bojan Hodak. Setiap sudut galeri dirancang sebagai ruang tematik yang bercerita.
"Persib Itu Identitas Bandung, Bukan Sekadar Kemenangan"
Elia Yoesman memaparkan latar belakang pameran ini berangkat dari keyakinan bahwa Persib adalah fenomena budaya yang alami dan turun-temurun. Menurutnya, euforia tiga musim terakhir—2023-2024, 2024-2025, dan 2025-2026—bukan cuma soal pesta di stadion.
“Persib bukan sekadar kemenangan, program ini lahir dari keyakinan bahwa Persib ini melampaui sepak bola, Persib itu identitas Bandung. Ceritanya akan selalu hidup di tengah keluarga, masyarakat, memorabilia puluhan tahun, tentang ekspresi perayaan yang tumbuh di tengah masyarakat,” papar Elia dalam keterangan resmi.
Mengapa Pameran Ini Berlangsung Tiga Bulan?
Durasi pameran yang panjang, dari Juni hingga September 2026, bukan tanpa alasan. Grey Art Gallery ingin memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi Bobotoh dan masyarakat umum untuk menikmati narasi visual ini. Apalagi, pameran ini digelar di kawasan Braga yang ikonik, pusat sejarah dan seni Kota Bandung.
Elia menambahkan, fenomena nyata terlihat saat perayaan gelar juara. Cerita kebahagiaan tidak hanya hadir di lapangan, tapi tumbuh di tengah kehidupan masyarakat Jawa Barat. “Persib bukan hanya hadir di lapangan, ceritanya hidup di tengah masyarakat dan ekspresi budaya yang hidup puluhan tahun,” terangnya.
Warisan Prestasi di Tangan Bojan Hodak
Pameran ini menjadi penanda bahwa tiga gelar beruntun yang diraih Persib bukanlah kebetulan. Di bawah arahan pelatih asal Kroasia, Bojan Hodak, Maung Bandung sukses mendominasi Liga Indonesia. Prestasi ini meninggalkan warisan yang kini diabadikan dalam bentuk seni dan budaya.
Bagi Bobotoh, "Cultura Persib" adalah pengingat bahwa sejarah klub mereka layak diceritakan dalam kanvas yang lebih luas—bukan hanya di papan skor, tapi juga di hati masyarakat Bandung.