KALIMANTAN UTARA — Warga binaan di Kupang tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga belajar mengelola lahan kering hingga panen raya. Mereka bersama petugas berhasil membudidayakan jagung di lahan seluas dua hektare, dengan hasil panen segar mencapai lebih dari dua ton.
Hasil panen tersebut akan disalurkan sebagai bahan baku program Makan Bergizi Gratis. Kerja sama ini terjalin dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Selain jagung, warga binaan juga menanam aneka sayuran dan buah-buahan untuk kebutuhan serupa.
Dari Media Sosial ke Rantai Pasok: Kisah Selada Premium Lapas Lamongan
Upaya serupa berlangsung di Lapas Lamongan, Jawa Timur. Namun, komoditas yang dikembangkan berbeda: selada hidroponik premium. Budidaya sayuran modern ini kini menjadi pemasok rutin salah satu SPPG di Lamongan.
Menariknya, kerja sama ini berawal dari publikasi hasil budidaya warga binaan di media sosial lapas. Ketertarikan mitra SPPG muncul setelah melihat kualitas selada yang dihasilkan. Kini, selada dari lapas menjadi bagian dari rantai pasok program MBG secara reguler.
Bekal Keterampilan untuk Warga Binaan
Lebih dari sekadar mendukung program strategis pemerintah, aktivitas pertanian ini menjadi sarana pembinaan keterampilan. Warga binaan belajar mengelola lahan, menanam, memanen, hingga memasarkan hasil panen.
Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal berharga saat mereka kembali ke tengah masyarakat. Dengan keterampilan bertani yang teruji, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mandiri secara ekonomi setelah bebas.
Inisiatif di Kupang dan Lamongan membuktikan bahwa lahan tidur di lingkungan pemasyarakatan bisa diubah menjadi aset produktif. Program ini tidak hanya menekan angka pengangguran pasca-rehabilitasi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.