KALIMANTAN UTARA — Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengklaim serapan gabah sebesar itu merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang masif. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian dari Kementerian Pertanian, hingga aparat TNI dan Polri ikut mengawal proses pembelian di lapangan.
"Kami bersyukur sinergi ini berjalan efektif. Petani pun merespons positif karena harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan Rp6.500 per kilogram gabah kering panen," ujar Rizal dalam keterangan resmi, pekan lalu.
Standar Kualitas dan Strategi Pentahelix
Dalam setiap proses penyerapan, Bulog menerapkan standar ketat. Hanya gabah yang telah mencapai usia panen optimal yang diterima. Langkah ini ditempuh untuk memastikan kualitas beras tetap terjaga saat disimpan dalam jangka panjang di gudang Bulog."Kualitas gabah dan beras yang diserap menjadi faktor krusial dalam menjaga mutu cadangan pangan nasional," tegas Rizal.
Selain itu, Bulog mengadopsi strategi pentahelix dengan menggandeng akademisi dan media sebagai bagian dari pengawasan dan transparansi kinerja. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan stok pangan negara.
Dampak ke Petani dan Stok Nasional
Direktur Utama Bulog juga mengapresiasi peran petani yang dinilai berhasil menghasilkan gabah dan beras berkualitas. Tanpa pasokan dari hulu yang baik, upaya penyerapan optimal di seluruh Indonesia tidak akan tercapai.Saat ini, total stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog telah mencapai sekitar 5,3 juta ton. Jumlah tersebut menjadi bantalan utama jika terjadi lonjakan harga atau gagal panen akibat cuaca ekstrem.
Dengan target 4 juta ton setara beras di tahun 2026, Bulog masih memiliki waktu untuk mengejar sisa 26 persen penyerapan. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin target akhir tahun akan terlampaui, sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.