KALIMANTAN UTARA — Isu merger ini mencuat di tengah persiapan SpaceX melakukan IPO terbesar dalam sejarah. Perusahaan roket milik Musk itu telah mengajukan S-1 pada 20 Mei dan dijadwalkan mulai diperdagangkan di Nasdaq pada 12 Juni mendatang dengan kode saham SPCX. Target valuasi SpaceX mencapai USD 1,75 triliun, dengan dana yang dihimpun sekitar USD 75 miliar.
Sementara itu, kapitalisasi pasar Tesla saat ini berada di kisaran USD 1,6 triliun. Jika keduanya bergabung, nilai entitas?? yang terbentuk akan melampaui USD 3 triliun — menjadikannya salah satu perusahaan paling bernilai di dunia.
Kekhawatiran Pemegang Saham: Negosiasi dengan Diri Sendiri
Masalah utama dari rencana ini terletak pada struktur kepemilikan Musk yang timpang. Ia hanya memegang sekitar 20 persen ekuitas Tesla, tetapi memiliki 85,1 persen hak suara di SpaceX melalui kelas saham super-voting. Ketika Musk duduk di kedua sisi meja negosiasi, ia pada dasarnya sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri — dan kepentingannya tidak tersebar secara merata.
Analis Wedbush, Dan Ives, memperkirakan probabilitas merger ini terjadi mencapai 80 hingga 90 persen pada awal 2027. Namun pasar prediksi Kalsih lebih skeptis, hanya memberi odds 33 persen untuk merger sebelum Mei 2027.
Tiga Transaksi Sebelumnya yang Jadi Preseden Buruk
Ini bukan pertama kalinya Musk memindahkan aset antar perusahaannya sendiri. Setidaknya sudah ada tiga transaksi besar sebelumnya yang patut dicermati pemegang saham Tesla.
Pertama, akuisisi SolarCity senilai USD 2,6 miliar pada 2016. Tesla membeli perusahaan panel surya yang saat itu nyaris bangkrut, di mana Musk menjabat sebagai chairman dan pemegang saham terbesar. Gugatan pemegang saham menyusul, dan meskipun pengadilan Delaware menyatakan transaksi itu "wajar", direktur Tesla lainnya harus membayar USD 60 juta sebagai penyelesaian. Ironisnya, setelah memenangkan gugatan, Tesla justru menutup sebagian operasi tenaga suryanya.
Kedua, pembelian Twitter seharga USD 44 miliar pada 2022. Musk sendiri mencoba mundur dari kesepakatan ini setelah menyadari bahwa ia membayar terlalu mahal. Dalam setahun, Fidelity menilai kepemilikan sahamnya di Twitter anjlok 65 persen. Pada Oktober 2024, platform itu diperkirakan hanya bernilai USD 9-10 miliar. Namun pada Maret 2025, Musk memaksa xAI mengakuisisi Twitter dengan valuasi USD 33 miliar — secara ajaib "mengembalikan" nilai platform yang nyaris kolaps.
Ketiga, investasi Tesla ke xAI senilai USD 2 miliar pada Januari 2026. Keputusan ini diambil meskipun pemegang saham sebelumnya menolak proposal serupa. Beberapa hari kemudian, SpaceX mengakuisisi xAI dalam kesepakatan senilai USD 250 miliar. Tak lama setelah itu, Musk sendiri mengakui bahwa xAI "tidak dibangun dengan benar" dan perlu dibangun ulang dari awal — setelah uang pemegang saham Tesla dan SpaceX sudah tersedot.
Apa yang Akan Digabung dalam Merger Tesla-SpaceX?
Jika merger ini terjadi, pemegang saham Tesla akan menggabungkan perusahaan mobil listrik senilai USD 1,6 triliun dengan entitas yang dikuasai Musk 85 persen — yang kini sudah menampung sisa-sisa Twitter, perusahaan AI yang diakui sendiri dibangun dengan keliru, serta bisnis roket dengan valuasi gila yang bertumpu pada mimpi Mars yang terus tertunda.
Pertanyaan besarnya: siapa yang sesungguhnya diuntungkan dari transaksi ini? Sejarah menunjukkan bahwa dalam setiap langkah, Musk selalu berhasil melindungi kepentingannya sendiri — sementara pemegang saham publik kerap menanggung risikonya.