TARAKAN — Dukungan diberikan lewat skema matching grant berupa peralatan produksi, sarana usaha, serta bahan baku sesuai kebutuhan tiap kelompok. Program ini mendorong keterlibatan warga pesisir dalam menjaga ekosistem mangrove melalui penguatan ekonomi, bukan hanya pemulihan lingkungan semata.
Lima kelompok penerima memiliki jenis usaha yang berbeda. UMKM Imbaya Bais mengembangkan produk stik tudai berbahan dasar kerang, sementara Kelompok Wanita Tani (KWT) Bepakot memproduksi sambal ikan asap dan bandeng tanpa duri.
Kelompok Peternak Perintis mengembangkan usaha ayam petelur. KPTN Sejahtera mendapat dukungan untuk budidaya kepiting bakau, sedangkan UMKM Sukses Bersama mengembangkan produk sambal ebi khas Kaltara.
Keterlibatan kelompok perempuan menjadi salah satu capaian yang diperhatikan dalam program ini. Dari lima kelompok penerima bantuan, tiga di antaranya merupakan kelompok perempuan.
Jumlah itu sejalan dengan target M4CR yang menetapkan partisipasi perempuan sekurang-kurangnya 30 persen. Pemenuhan target tersebut tercermin langsung dari komposisi penerima manfaat di Kaltara.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) sekaligus Executive Director M4CR, Muhammad Zainal Arifin, menilai penguatan ekonomi masyarakat berkaitan erat dengan keberhasilan pemulihan mangrove.
Rehabilitasi tidak akan berjalan optimal apabila warga di sekitar kawasan mangrove tidak memperoleh manfaat dari keberadaan ekosistem tersebut. Karena itu, peningkatan kesejahteraan perlu menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan.
"Upaya pemulihan mangrove harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Melalui dukungan usaha produktif, masyarakat diharapkan memiliki sumber penghidupan yang dapat berkembang, sekaligus tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaga ekosistem mangrove di wilayahnya," ujarnya, Senin (2/11).
PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan penyaluran bantuan tidak dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh kelompok. Setiap penerima terlebih dahulu disesuaikan dengan potensi usaha dan kebutuhan produksi masing-masing.
"Setiap kelompok memiliki potensi dan tantangan usaha yang berbeda. Karena itu, dukungan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan mereka, baik berupa peralatan maupun bahan pendukung produksi. Harapannya, bantuan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat," kata Akhmad.
Dengan skema matching grant, kelompok penerima tidak hanya memperoleh alat produksi, tetapi juga bahan baku yang langsung menopang kegiatan usaha. Pola ini memberi ruang bagi tiap kelompok mengembangkan produk khasnya sendiri, dari olahan kerang hingga sambal ebi.