Bahlil: Ekspor Listrik ke Singapura Belum Deal, Harga Jadi Penghambat

Penulis: Panji Pratama  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 14:21:31 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut rencana ekspor listrik ke Singapura belum mencapai kesepakatan harga.

KALIMANTAN UTARA — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan rencana ekspor listrik Indonesia ke Singapura belum mencapai kesepakatan final karena kedua pihak belum sepakat soal harga. Singapura sudah memberi lisensi bersyarat kepada tujuh perusahaan Indonesia berkapasitas total 3,4 gigawatt, tetapi implementasinya menunggu kepastian harga.

Bahlil menyampaikan hal itu dalam Bali Tech Week 2026 di Sanur, Bali, Senin (19/10). Pemerintah menyatakan siap mengirim listrik ke Singapura begitu persoalan harga disepakati.

"Saya punya negosiasi menyangkut kirim listrik ke Singapura, belum deal karena harganya belum clear, kalau harganya clear saya akan kirim," kata Bahlil.

Tujuh Perusahaan Sudah Kantongi Lisensi Bersyarat

Singapura telah memberikan persetujuan dan lisensi bersyarat kepada tujuh perusahaan Indonesia dengan total kapasitas sekitar 3,4 gigawatt. Meski demikian, proyek tidak langsung berjalan dalam kapasitas penuh.

Implementasi akan dimulai dari sekitar 600 megawatt lebih dulu, sebelum ditingkatkan secara bertahap. Skema bertahap ini memberi ruang bagi pengembang untuk menyiapkan infrastruktur dan pasokan listrik yang andal.

Butuh Investasi Rp 176,9 Triliun hingga Rp 354 Triliun

CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro menyebut proyek ekspor listrik ini menyerap investasi jumbo. Kebutuhan dana besar karena proyek tidak hanya mengandalkan pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermiten, tetapi juga infrastruktur pendukung agar pasokan listrik terkirim andal ke Singapura.

"Kalau kita lihat market testing untuk financing, dan satu proyek itu butuh 600-700 MW, itu salah satu mandat dari tujuh mandat yang ada. Itu butuh sekitar US$ 10 miliar – US$ 20 miliar," kata Donny dalam diskusi di Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/8).

Dengan kurs Rp 17.687 per dolar AS, kebutuhan investasi itu setara Rp 176,9 triliun hingga Rp 354 triliun. Standard Chartered Indonesia menjadi salah satu penasihat keuangan untuk proyek yang dikembangkan Total Energies dan RGE tersebut.

Minat Investor Melebihi Kapasitas yang Tersedia

Dari sisi pembiayaan, Donny menyatakan proyek ekspor listrik telah menarik minat investor. Bahkan investor dengan tiket investasi minimum sekitar US$ 500 juta atau Rp 8,84 triliun disebut melebihi kapasitas yang tersedia.

"Market testing, ticket size buat investor yang mau masuk minimum US$ 500 juta. Itu oversubscribed," ujarnya.

Antusiasme investor itu menjadi sinyal positif di tengah besarnya kebutuhan dana. Namun kepastian harga jual listrik tetap menjadi syarat utama agar proyek bisa masuk tahap financial close.

Devisa dan Lapangan Kerja Jadi Daya Tarik

Donny menilai ekspor listrik ke Singapura memberi manfaat besar bagi Indonesia. Proyek ini berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan devisa dari ekspor energi.

"Buat Indonesia sebetulnya very beneficial. Satu lapangan pekerjaan, kedua devisa ekspor," ujarnya.

Perdagangan listrik lintas negara juga dinilai memperkuat posisi tawar Indonesia. Sebagai pemasok listrik bagi Singapura, Indonesia memiliki posisi politik yang cukup kuat dalam negosiasi energi kawasan.

"Yang ketiga ya Indonesia punya bargaining position yang cukup kuat politiknya juga, karena kita yang kirimkan listrik ke Singapura," kata Donny.

Bagi pelaku pasar, penyelesaian soal harga menjadi kunci sebelum tujuh proyek dengan total kapasitas 3,4 gigawatt itu bisa dieksekusi. Tanpa kesepakatan harga, lisensi bersyarat dari Singapura belum cukup untuk menggerakkan investasi Rp 176,9 triliun hingga Rp 354 triliun yang dibutuhkan.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top