KALIMANTAN UTARA — Pemerintah menambah kuota produksi batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi sekitar 15–20 juta ton, tak lama setelah pengusaha Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam menguasai 30% saham emiten milik Low Tuck Kwong tersebut. Tambahan kuota ini mengakhiri kebuntuan operasional yang sempat memaksa BYAN mengumumkan force majeure. Bagi pasar, kepastian RKAB ini menjadi penentu arah kinerja produksi BYAN hingga akhir tahun.
Paragraf pembuka: Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan persetujuan tambahan kuota produksi batu bara untuk Bayan Resources telah diterbitkan pada Senin (21/9). Keputusan itu keluar setelah Kementerian ESDM sebelumnya menahan persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tiga anak usaha BYAN. Tanpa RKAB, kegiatan produksi ketiga anak usaha tersebut tidak bisa berjalan secara sah.
Ketidakpastian regulasi sempat menempatkan BYAN di posisi sulit. Manajemen sampai mengumumkan force majeure karena produksi tidak dapat dilanjutkan tanpa dasar hukum yang jelas. Kondisi itu berlangsung hingga Haji Isam resmi mengambil alih 30% saham BYAN atau setara 10 miliar saham.
Setelah akuisisi tersebut tuntas, Kementerian ESDM menerbitkan RKAB milik Bayan Resources. Tambahan kuota produksi sekitar 15–20 juta ton pun disetujui, membuka jalan bagi anak usaha BYAN untuk kembali beroperasi.
Katadata sudah meminta konfirmasi dan penjelasan langsung kepada Tri soal tambahan kuota tersebut. Hingga berita ini ditulis, belum ada jawaban yang diterima.
Lembaga pemeringkat Moody's Ratings memangkas prospek BYAN dari stabil menjadi negatif. Peringkat korporasi atau corporate family rating (CFR) perseroan tetap di level Ba1.
Asisten Wakil Presiden Moody's Ratings, Anthony Prayugo, menilai perubahan prospek itu mencerminkan ketidakpastian regulasi seputar alokasi kuota produksi batu bara. Menurut dia, ketidakpastian tersebut berpotensi membatasi produksi sekaligus menekan laba Bayan jika tidak segera diselesaikan.
"Namun ketidakpastian yang terus berlanjut seputar persetujuan kuota RKAB menimbulkan risiko penurunan terhadap kemampuannya untuk mencapai pertumbuhan produksi," ujar Prayugo dalam pengumuman Moody's, Jumat (18/9).
Meski prospeknya dipangkas, Moody's menilai metrik kredit Bayan masih kuat. Neraca keuangan perseroan yang bebas utang menjadi penopang utama kondisi kredit emiten tambang batu bara itu.
Masuknya Haji Isam ke jajaran pemegang saham mengubah peta kepemilikan BYAN. Akuisisi 30% saham itu tidak hanya berdampak pada komposisi pemegang saham, tetapi juga berkaitan erat dengan keluarnya izin RKAB yang sempat tertahan.
Bagi pelaku pasar, tambahan kuota 15–20 juta ton memberi kejelasan atas volume produksi yang bisa dikejar BYAN. Sebelumnya, ketiadaan RKAB membuat target produksi perseroan sulit diprediksi dan menjadi salah satu pemicu kekhawatiran investor.
Peringkat Ba1 dengan prospek negatif menunjukkan Moody's masih melihat risiko regulasi sebagai faktor utama. Selama persetujuan kuota RKAB tidak stabil, ruang BYAN untuk mengejar pertumbuhan produksi tetap terbatas — meski posisi keuangannya tanpa utang memberi bantalan yang cukup.
Sejauh mana tambahan kuota ini mengangkat kinerja BYAN akan terlihat dari realisasi produksi pada periode berikutnya. Yang jelas, kombinasi masuknya Haji Isam dan terbitnya RKAB menjadi titik balik operasional emiten batu bara ini setelah sempat tersendat.