KALIMANTAN UTARA — Langkah ini menjadi tonggak baru elektrifikasi di wilayah kepulauan. Dengan mengintegrasikan panel surya, baterai penyimpanan (BESS), turbin angin, dan fuel cell hidrogen, PLN memutus ketergantungan warga pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang boros dan hanya beroperasi separuh hari.
“Technopark Pulau Rengit merupakan technopark pertama yang secara resmi dioperasikan PLN. Dengan memanfaatkan energi surya, BESS, turbin angin, dan fuel cell hidrogen, kami berharap dapat meningkatkan efisiensi penyediaan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel,” ujar Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN Edwin Nugraha Putra kepada wartawan, Selasa (25/8/2026).
GEET Pulau Rengit melayani sekitar 150 jiwa atau 45 kepala keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Pasokan listrik yang andal sepanjang hari membuka peluang ekonomi baru yang sebelumnya mustahil dilakukan.
Salah satu yang paling krusial adalah pengoperasian cold storage untuk menyimpan hasil tangkapan laut. Sebelumnya, nelayan terpaksa menjual ikan dengan harga murah karena tak punya sarana penyimpanan. Kini, mereka punya ruang untuk menunda penjualan hingga harga membaik.
PLN juga menerapkan konsep agrovoltaik—panel surya yang dipadukan dengan aktivitas pertanian di bawahnya—sehingga lahan yang sama bisa dimanfaatkan ganda untuk produksi pangan dan energi.
PLN menjadikan Pulau Rengit sebagai ruang riset terbuka untuk menguji teknologi energi hijau di lingkungan pulau terpencil. General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh menyebut pengalaman operasional di sini akan menjadi blueprint nasional.
“Jika terbukti beroperasi andal 24 jam, pengalaman ini dapat menjadi blueprint untuk pengembangan sistem energi hijau di pulau-pulau terpencil lainnya,” ujar dia.
Pengembangan GEET ini melibatkan sejumlah perguruan tinggi: UGM menggarap fuel cell hidrogen, UNS mengembangkan baterai, dan UBB berkontribusi pada konsep agrovoltaik. Direktur Energi Baru Kementerian ESDM Senda Hurmuzan Kanam menilai proyek ini sejalan dengan roadmap hidrogen nasional, sementara Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani mendukungnya sebagai penerapan riset untuk ketahanan energi.
Pasokan listrik yang stabil diharapkan memicu geliat ekonomi lebih luas. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani menegaskan pihaknya akan mendorong investasi di daerah itu, termasuk pengembangan perkebunan dan industri pengolahan kelapa.
“Kami akan mendorong investasi, termasuk pengembangan perkebunan dan industri pengolahan kelapa, sehingga energi listrik dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Hidayat.
GM PLN Unit Induk Wilayah Bangka Belitung Ira Savitri menyebut GEET Pulau Rengit sebagai momentum penting penguatan layanan kelistrikan di wilayah kepulauan. PLN berencana mengevaluasi kinerja sistem ini sebelum mereplikasinya ke pulau-pulau terpencil lain yang selama ini masih mengandalkan diesel dengan jam operasi terbatas.
Keberhasilan proyek ini akan menentukan seberapa cepat Indonesia bisa meninggalkan pembangkit fosil di daerah terluar—sekaligus membuktikan bahwa transisi energi tidak harus menunggu infrastruktur raksasa, tapi bisa dimulai dari skala kecil yang berdampak langsung pada kehidupan warga.