NUNUKAN — Rapat kerja pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru SIT Ibnu Sina Nunukan yang berlangsung hingga pukul 22.30 WITA itu memutuskan sejumlah prioritas pembenahan. Hasil studi tiru ke Buahati Islamic School Jakarta dikelompokkan menjadi program yang bisa langsung dieksekusi, program yang butuh koordinasi, serta program yang berjalan bertahap.
Ketua Dewan Pembina Muhammad Nasir mengingatkan agar studi tiru tidak berhenti pada kekaguman. Menurutnya, kunjungan ke sekolah lain harus berujung pada perbaikan sistem, SDM, pembinaan siswa, dan pelayanan pendidikan di Ibnu Sina.
Salah satu pembahasan yang paling menyita perhatian dalam rapat adalah sistem evaluasi ala Buahati. Sebanyak 16 jenis rapor atau instrumen penilaian dipelajari, termasuk rapor guru yang dinilai mampu mengukur kinerja secara lebih objektif.
Indikator yang diukur mencakup kedisiplinan, profesionalisme, kompetensi, kualitas mengajar, hingga kontribusi terhadap lembaga. Dalam jangka panjang, hasil evaluasi ini akan menjadi dasar pembinaan sekaligus pemberian penghargaan dan peningkatan kesejahteraan berdasarkan kinerja.
"Evaluasi bukan untuk mencari kesalahan. Tetapi lembaga membutuhkan standar. Dalam jangka panjang, hasil evaluasi juga menjadi panduan untuk melihat apakah seorang guru masih sesuai dan layak melanjutkan pengabdiannya di Ibnu Sina atau mungkin lebih tepat mengembangkan dirinya di tempat lain," tegas Muhammad Nasir.
Muhammad Nasir menegaskan bahwa guru dengan kinerja baik harus memperoleh apresiasi. Sementara itu, guru yang masih kurang harus mendapatkan pembinaan dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas.
Kepala Bidang Pembinaan SDM dr. Baharullah menyampaikan bahwa sistem pendidikan yang baik harus didukung SDM yang terus berkembang. Karena itu, pembinaan guru perlu dilakukan secara terstruktur, terukur, dan berkesinambungan.
Senada dengan itu, Ima Yuli Astanti menilai hasil studi tiru memberikan banyak referensi baru dalam membangun budaya peningkatan kapasitas guru. "Kualitas murid sangat berkaitan dengan kualitas orang-orang yang mendidiknya. Karena itu guru harus diberikan ruang untuk belajar, meningkatkan kompetensi, melakukan evaluasi dan memperbaiki diri secara terus-menerus," ujarnya.
Rapat yang dipimpin Ketua Yayasan Oji Raharjo ini juga membahas sejumlah gagasan dari setiap jenjang pendidikan. Kepala SMAIT Ariffudin, Kepala SMPIT Syafaruddin, Kepala SDIT Hasmawati, dan Kepala TKIT Suriyani menyampaikan masukan terkait penguatan karakter, pembinaan siswa saleh dan berprestasi, serta inovasi pembelajaran.
Pengembangan Bahasa Inggris sejak TKIT hingga SMAIT juga masuk dalam agenda prioritas. Selain itu, pembahasan mencakup administrasi sekolah, pembinaan guru, dan sistem evaluasi yang akan diterapkan secara bertahap.
Dari sisi kelembagaan, Bendahara Yayasan M. Rusdi menekankan pentingnya memperkuat bina usaha dan fundraising. Menurutnya, kemandirian finansial sangat menentukan kemampuan yayasan mengembangkan pendidikan dalam jangka panjang.
"Kita perlu membangun sumber pendapatan yayasan di luar dana sekolah. Bina usaha dan fundraising harus dikembangkan secara profesional agar yayasan semakin mandiri dan memiliki kemampuan lebih besar untuk membangun fasilitas, meningkatkan kualitas serta kesejahteraan SDM dan mengembangkan sekolah," kata Rusdi.
Agenda strategis lain yang mengemuka adalah mempertegas keunggulan SIT Ibnu Sina di tengah persaingan lembaga pendidikan. Syafaruddin, Kepala SMPIT Ibnu Sina, menyebut pihaknya ingin melahirkan lulusan yang kuat keislamannya, karakternya, akademiknya, dan punya kompetensi untuk masa depan.
Diskusi berlangsung dinamis dengan masukan dan kritik dari pengurus yayasan, kepala sekolah, hingga perwakilan guru. "Lebih baik kita memilih beberapa perubahan dan benar-benar mengerjakannya daripada memiliki banyak rencana tapi tidak pernah dieksekusi," ujar Oji Raharjo menutup rapat.