Menaker Yassierli: Sertifikasi Kompetensi dan Pelatihan Vokasi Jadi Prioritas demi Target TPT 4,65%

Penulis: Naufal Aditama  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:25:01 WIB
Menaker Yassierli memimpin upacara HUT ke-81 RI di Plaza Kemnaker, Jakarta, Senin (17/8/2026).

KALIMANTAN UTARA — Jakarta — Pemerintah menempatkan pembangunan kompetensi pekerja sebagai fondasi utama agenda industrialisasi dan hilirisasi. Hal ini disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat memimpin upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Plaza Kemnaker, Jakarta, Senin (17/8/2026).

"Tidak ada hilirisasi tanpa manusia yang mampu mengerjakannya, tidak ada industrialisasi tanpa pekerja yang kompeten, dan tidak ada kemandirian ekonomi tanpa kekuatan tenaga kerja Indonesia," ujar Yassierli dalam sambutannya.

Empat Fokus Utama Kemnaker

Yassierli merinci empat prioritas yang akan menjadi panduan kerja Kemnaker ke depan. Pertama, pembangunan kompetensi pekerja melalui pelatihan vokasi, pemagangan, dan sertifikasi. Kedua, penguatan pasar kerja yang adaptif melalui layanan informasi dan pencocokan kerja (job matching).

Ketiga, penciptaan dunia kerja yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Keempat, penguatan hubungan industrial yang harmonis dan adaptif. Menurut Yassierli, keempat pilar ini harus berjalan simultan agar produktivitas dan kesejahteraan pekerja meningkat seiring kemajuan industri.

Menjawab Tantangan AI dan Otomasi

Kemnaker menyadari sistem pelatihan kerap tertinggal dari kebutuhan industri, terutama dengan hadirnya digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), dan otomasi. Karena itu, kurikulum pelatihan akan diselaraskan dengan perkembangan industri baru dan transisi energi.

"Kita harus semakin mampu membaca perubahan kebutuhan industri agar sistem pelatihan kita tidak selalu datang terlambat. Sebab, pada akhirnya, kedaulatan industri membutuhkan kedaulatan kompetensi," tegasnya.

Data Pasar Kerja Terbaru

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, sekitar 148 juta penduduk Indonesia telah bekerja. Angka ini sejalan dengan TPT sebesar 4,65 persen, yang menjadi indikator utama dalam menilai kesehatan pasar tenaga kerja nasional.

Yassierli menekankan bahwa pasar kerja harus mampu mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan kompetensi spesifik secara lebih cepat dan tepat. Program reskilling dan upskilling juga akan diperkuat untuk mengantisipasi pergeseran struktur pekerjaan.

Dari Kompeten Menuju Sejahtera

Pada akhirnya, seluruh program ketenagakerjaan diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Alur yang ingin dibangun Kemnaker adalah dari proses belajar menjadi kompeten, lalu dari kompeten memperoleh pekerjaan, dan dari produktivitas meningkat menuju kesejahteraan.

"Tugas kita adalah membuat perjalanan mereka menjadi lebih baik: dari belajar menjadi kompeten, dari kompeten memperoleh pekerjaan, dari bekerja menjadi semakin produktif, dan dari produktivitas memperoleh kehidupan yang semakin sejahtera," pungkas Yassierli.

Reporter: Naufal Aditama
Sumber: mediasatunews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top