KALIMANTAN UTARA — Xiaomi Auto telah mengirim lebih dari 800.000 unit mobil listrik sejak proyeknya diumumkan Lei Jun pada 30 Maret 2021 dengan modal awal CNY10 miliar di Yizhuang, Beijing. Setelah sukses di China lewat SU7 dan YU7, Xiaomi kini bersiap mengetuk pasar Eropa dan Indonesia. Target 550.000 unit tahun 2026 baru tercapai 52 persen hingga September, sinyal tantangan yang perlu dicermati calon pembeli di pasar global.
Pabrik Xiaomi Auto di Yizhuang, Beijing, menjadi saksi bagaimana sebuah perusahaan teknologi konsumen membangun lini produksi mobil listrik dari nol. Proyek yang disebut Lei Jun sebagai "proyek besar terakhirnya" itu bergerak cepat: dari pengumuman pada 30 Maret 2021 hingga pengiriman perdana SU7 pada April 2024.
Sepanjang perjalanan tersebut, Xiaomi Auto tercatat telah memproduksi lebih dari 800.000 mobil listrik. Angka itu menempatkan Xiaomi bukan lagi pemain baru yang perlu diragukan, melainkan penantang serius di segmen kendaraan listrik China.
Lonjakan Pengiriman SU7 dan YU7 di China
Sedan listrik pertama Xiaomi, SU7, mulai dikirim April 2024 dan menembus 139.500 unit hingga akhir tahun itu. Puncaknya terjadi pada 2025 ketika total pengiriman Xiaomi Auto mencapai 411.837 unit.
SU7 sendiri menyumbang 258.164 unit dan mengalahkan Tesla Model 3 di pasar China. Kesuksesan itu disusul oleh SUV YU7 serta sedan bertenaga tinggi SU7 Ultra yang melengkapi portofolio Xiaomi di segmen berbeda.
Target 2026 Baru Tercapai Separuh
Memasuki 2026, laju Xiaomi Auto tidak lagi secepat dua tahun sebelumnya. Dari target 550.000 unit, perusahaan baru mengirim 286.475 unit atau sekitar 52 persen hingga September.
Angka tersebut tetap besar untuk ukuran merek yang baru lima tahun berdiri, tetapi menunjukkan bahwa ekspansi ke pasar baru seperti Eropa dan Indonesia menjadi semakin penting untuk mengejar sisa target.
Spesifikasi yang Bikin SU7 Dilirik
- Platform: sedan listrik murni dengan varian performa tinggi SU7 Ultra
- Portofolio: sedan SU7, SUV YU7, dan varian Ultra
- Pasar awal: China, dengan ekspansi ke Eropa dan Indonesia dalam pipeline
- Kapasitas produksi: lebih dari 800.000 unit sejak 2021
Detail teknis seperti kapasitas baterai, jarak tempuh, dan harga per varian belum diungkap untuk pasar Indonesia. Xiaomi Auto sejauh ini fokus membangun kapasitas produksi dan jaringan distribusi di China sebelum melebarkan sayap.
Mengapa Indonesia Masuk Radar Xiaomi Auto
Indonesia menjadi tujuan ekspansi yang logis bagi Xiaomi. Pasar kendaraan listrik dalam negeri tumbuh cepat, ditopang insentif pemerintah dan investasi baterai yang masif. Xiaomi juga sudah punya basis pengguna perangkat konsumen yang besar di Indonesia, modal penting untuk membangun ekosistem mobil terhubung.
Meski begitu, belum ada tanggal resmi peluncuran Xiaomi Auto di Indonesia. Calon pembeli sebaiknya menunggu pengumuman resmi soal harga, varian, dan jaringan layanan purnajual sebelum mengambil keputusan.
Posisi Xiaomi Auto di Peta EV Global
Dibanding Tesla dan BYD, Xiaomi Auto masih pemain muda. Namun capaian 800.000 unit dalam lima tahun menunjukkan eksekusi yang tidak bisa diremehkan. Strategi Xiaomi menggabungkan perangkat pintar, sistem operasi, dan mobil listrik dalam satu ekosistem menjadi pembeda yang sulit ditiru merek tradisional.
Bagi konsumen Indonesia yang menanti kehadiran Xiaomi Auto, kabar baiknya adalah perusahaan ini sudah terbukti mampu memproduksi massal dan bersaing di pasar terbesar dunia. Tinggal menunggu bagaimana Xiaomi menyesuaikan produknya dengan regulasi, harga, dan selera pasar lokal.