KALIMANTAN UTARA — Ode resmi beroperasi sejak Mei 2025 sebagai joint venture antara Anthropic, Blackstone, Hellman & Friedman, dan Goldman Sachs. Perusahaan ini mengakuisisi startup layanan teknik AI, Fractional AI, yang sebelumnya sempat bermitra dengan OpenAI selama 11 bulan. Kini, Fractional menjadi tulang punggung Ode — sebuah firma jasa AI yang menyebut dirinya sebagai "scaled boutique".
Pendiri Ode percaya bahwa kunci adopsi AI di perusahaan besar bukan terletak pada kecanggihan model semata. "Memilih model itu penting, tapi bukan di situ mayoritas energi dihabiskan," ujar Eddie Siegel, Chief Technologist Ode dan salah satu pendiri Fractional. Ia menganalogikan pemilihan model AI seperti memilih bahasa pemrograman — bukan faktor penentu transformasi bisnis.
Chris Taylor, CEO Ode, menambahkan bahwa perusahaan non-AI justru berpotensi menjadi pemenang besar di era ini — asal mereka mengadopsi teknologi dengan cara yang benar. "Butuh bantuan besar untuk mengambil bahan ajaib yang bisa berhalusinasi ini, lalu menyambungkannya ke proses bisnis inti," katanya.
Saat ini Ode mempekerjakan 100 insinyur. Separuh lebih dari mereka adalah mantan pendiri startup. Blackstone menyebut tim ini sebagai "special forces" — bukan sekadar pasukan insinyur lapangan (forward-deployed engineers) biasa. Mereka adalah generalis elite yang bisa menangani masalah teknis rumit sekaligus memiliki kemampuan mengelola proyek dari ujung ke ujung.
Permintaan untuk tim semacam ini, menurut sejumlah pihak yang terlibat, jauh melampaui pasokan yang ada. Ode berencana terus berekspansi secara global, namun tetap mempertahankan posisi sebagai firma butik — dengan evaluasi ketat terhadap dampak bisnis dari setiap implementasi AI yang mereka kerjakan.
Menurut Taylor, klien ideal Ode adalah perusahaan yang menjadikan proyek AI sebagai prioritas utama CEO. "Ini fitur produk terpenting yang akan dibangun perusahaan dalam dua tahun ke depan, atau proses bisnis paling krusial yang sedang dirombak ulang," ujarnya. Ode mengadopsi prinsip "Claude-first" — artinya mereka akan menggunakan teknologi Anthropic, termasuk fitur Claude Tag di Slack, kapan pun memungkinkan. Namun, mereka tidak menutup diri dari produk pesaing jika diperlukan.
Para investor, termasuk Blackstone, akan mengarahkan perusahaan portofolio mereka ke Ode sebagai calon klien. Meski begitu, Ode tidak membatasi penjualan jasanya hanya pada lingkaran itu.
Langkah Anthropic dan OpenAI mendirikan perusahaan implementasi terpisah menandakan bahwa persaingan AI enterprise tidak lagi sekadar siapa yang punya model terbaik. Pertarungan berikutnya ada pada siapa yang bisa membuat teknologi itu benar-benar bekerja di lapangan — termasuk di perusahaan-perusahaan yang selama ini tidak punya divisi AI internal.
Di Indonesia, tren ini masih jauh dari mass adoption. Namun, model bisnis seperti Ode bisa menjadi cetak biru bagi perusahaan rintisan lokal yang ingin menjembatani kesenjangan antara kemampuan model AI dan kebutuhan operasional perusahaan menengah-besar. Bagi pembaca tech-savvy, ini sinyal bahwa skill implementasi AI — bukan sekadar prompt engineering — akan menjadi komoditas paling berharga dalam beberapa tahun ke depan.