KALIMANTAN UTARA — Laporan terbaru dari berbagai perusahaan rintisan AI menunjukkan pola pertumbuhan pendapatan yang tidak lagi linier, melainkan eksponensial. Mercor, startup yang baru berusia kurang dari tiga tahun, mengumumkan pendapatan tahunan bruto (gross annualized revenue) mencapai USD 2 miliar per Juni 2026. Angka ini hanya berselang empat bulan setelah perusahaan tersebut menembus USD 1 miliar pada Februari 2026. Sebelumnya, Mercor yang bergerak di bidang perekrutan pakar untuk melatih model AI, telah mencapai angka USD 500 juta pada September 2025.
Pertumbuhan Anthropic, perusahaan di balik model AI Claude, disebut paling fenomenal. Pada akhir Mei 2026, Anthropic mengumumkan pendapatan tahunan berjalan (revenue run rate) telah menembus USD 47 miliar. Capaian ini terjadi kurang dari dua bulan setelah perusahaan melaporkan angka USD 30 miliar pada akhir Maret 2026. Sebagai perbandingan, Anthropic baru mencapai USD 9 miliar pada akhir 2025, naik dari USD 4 miliar pada Juli 2025.
Kecepatan pertumbuhan ini membuat sektor AI terpukau. Istilah "revenue run rate" yang digunakan Anthropic merujuk pada proyeksi pendapatan tahunan berdasarkan data penjualan bulan terakhir, bukan pendapatan yang sudah ditagihkan. Meski metrik ini berbeda dengan pendapatan riil, angkanya tetap menjadi sinyal kuat tentang permintaan pasar yang melonjak.
Tidak hanya perusahaan AI murni, penyedia software tradisional juga menikmati efek dorongan dari AI. Clio, penyedia software manajemen praktik hukum yang sudah berusia 18 tahun, melihat pendapatan tahunan berulang (ARR) melonjak setelah menyematkan fitur AI ke dalam produknya pada 2023. Clio mencapai ARR USD 200 juta pada pertengahan 2024, kemudian menggandakannya menjadi USD 400 juta pada akhir 2024, dan terakhir menyentuh USD 500 juta.
Sierra, startup yang membangun agen AI untuk layanan pelanggan perusahaan, juga menunjukkan pola serupa. Perusahaan yang didirikan oleh Bret Taylor ini membutuhkan tujuh kuartal untuk mencapai ARR USD 100 juta pertama. Namun, untuk menambah USD 100 juta berikutnya, Sierra hanya memerlukan dua kuartal. Sementara itu, Glean, startup AI enterprise berusia tujuh tahun, berhasil memangkas waktu penggandaan ARR dari USD 200 juta ke USD 300 juta menjadi hanya enam bulan, lebih cepat dari sembilan bulan yang dibutuhkan untuk tumbuh dari USD 100 juta ke USD 200 juta.
Gusto, perusahaan teknologi SDM yang sudah berusia 14 tahun dan terakhir dinilai USD 9,3 miliar pada awal 2022, melaporkan pendapatan yang terus meningkat dalam lima kuartal terakhir. Perusahaan ini mengumumkan telah melampaui USD 1 miliar dalam pendapatan 12 bulan berjalan (trailing 12-month revenue). Berbeda dengan startup lain yang menggunakan metrik ARR atau run rate, Gusto melaporkan pendapatan aktual yang sudah terealisasi. Lonjakan ini menunjukkan bahwa integrasi AI tidak hanya menguntungkan perusahaan rintisan, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan bagi korporasi mapan.
Penting untuk dicatat bahwa setiap perusahaan menggunakan definisi pendapatan yang berbeda. Beberapa menggunakan Annualized Recurring Revenue (ARR) yang merujuk pada pendapatan dari kontrak berlangganan. Ada pula yang menggunakan revenue run rate, yaitu proyeksi berdasarkan penjualan bulan terakhir. Sementara itu, istilah "committed ARR" merujuk pada kontrak yang sudah ditandatangani namun pelanggannya belum aktif menggunakan layanan. Meski metriknya berbeda-beda, pola yang konsisten adalah bahwa pertumbuhan pendapatan mereka semakin cepat dari waktu ke waktu.
Fenomena ini menjadi indikator bahwa pasar AI korporat masih berada dalam fase pertumbuhan awal yang agresif. Bagi konsumen dan pelaku bisnis di Indonesia, tren ini berarti semakin banyak produk dan layanan berbasis AI yang akan muncul di pasar lokal dalam waktu dekat, baik dalam bentuk software enterprise maupun aplikasi konsumen.