MALINAU — BPJN Kaltara mengungkapkan bahwa jalan sepanjang lebih dari 200 kilometer yang menghubungkan Malinau dengan Krayan masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Anggaran Rp 5 triliun yang dibutuhkan itu akan digunakan untuk pengerjaan badan jalan, jembatan, hingga drainase di medan yang berat dan berbukit.
Kepala BPJN Kaltara, saat ditemui di Malinau, menjelaskan bahwa ruas ini menjadi prioritas karena merupakan akses utama bagi warga di Krayan yang selama ini sangat bergantung pada jalur udara. "Jalan ini vital untuk menekan biaya logistik dan membuka isolasi wilayah," ujarnya.
Kondisi geografis yang ekstrem menjadi faktor utama mahalnya proyek ini. Medan berbukit dengan kontur tanah yang labil serta banyaknya sungai yang harus dijembatani membuat biaya konstruksi per kilometernya jauh di atas rata-rata jalan di Kalimantan pada umumnya.
Selain itu, lokasi proyek yang berada di pedalaman membuat pasokan material seperti batu, pasir, dan aspal harus didatangkan dari jauh. "Biaya angkut material saja sudah sangat besar karena harus melewati jalur sungai dan darat yang terbatas," tambah pihak BPJN.
Keterbatasan akses darat membuat harga kebutuhan pokok di Krayan menjadi salah satu yang termahal di Kalimantan Utara. Bahan bakar minyak (BBM) dan sembako kerap dijual dengan harga dua hingga tiga kali lipat dibandingkan di kota Malinau.
Jika jalan tembus dan tuntas, warga Krayan tidak perlu lagi mengandalkan pesawat perintis untuk mengangkut barang. Distribusi logistik bisa dilakukan lewat truk, yang secara signifikan akan menekan biaya hidup masyarakat di perbatasan.
BPJN Kaltara mengaku terus mengupayakan percepatan dengan mengajukan tambahan alokasi anggaran ke Kementerian Pekerjaan Umum. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Malinau untuk membebaskan lahan di titik-titik yang masih menjadi kendala.
Meski kebutuhan dana sangat besar, BPJN optimistis pembangunan dapat terus berlanjut secara bertahap. "Kami targetkan setiap tahun ada progres, meskipun tidak bisa selesai sekaligus karena keterbatasan fiskal," pungkasnya.