KALIMANTAN UTARA — Pagi ini, tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang Asia kompak terdepresiasi terhadap greenback. Yen Jepang merosot 0,14 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen. Yuan China, peso Filipina, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong juga tercatat berada di zona merah.
Pelemahan serupa juga melanda mata uang utama negara maju. Euro Eropa, poundsterling Inggris, franc Swiss, dolar Australia, dan dolar Kanada semuanya melemah pada pembukaan pagi ini.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama yang menjadi pemicu adalah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih limbung, serta antisipasi pelaku pasar terhadap data ekonomi domestik.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Meski demikian, Lukman menambahkan bahwa harga minyak yang sudah mulai menurun bisa menjadi katalis positif bagi rupiah ke depannya. Ia memperkirakan mata uang Garuda akan bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026 tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah yang masih memanas menjadi sumber utama ketidakpastian global.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).
Selain faktor global, BI juga mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman. Lonjakan permintaan valas ini antara lain untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen, sementara arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas.
Menghadapi situasi ini, BI menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi di pasar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.