Mercedes-Benz S400 BlueHybrid 2009, Mobil Hybrid Pertama yang Pakai Baterai Lithium-ion di Dunia

Penulis: Panji Pratama  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 18:48:01 WIB
Mercedes-Benz S400 BlueHybrid 2009 menjadi mobil hybrid pertama yang menggunakan baterai lithium-ion di dunia.

KALIMANTAN UTARA — Di tahun 2009, ketika sebagian besar pabrikan masih bergantung pada baterai NiMH untuk mobil hybrid mereka, Mercedes-Benz mengambil jalur berbeda. S400 BlueHybrid hadir dengan baterai lithium-ion 120 volt yang diletakkan di ruang mesin, menggantikan posisi aki konvensional. Keputusan ini bukan tanpa risiko. Lithium-ion dikenal lebih ringan dan padat energi—mencapai lebih dari 270 watt-jam per kilogram, jauh di atas NiMH yang hanya 60–120 Wh/kg—namun juga lebih mudah terbakar karena elektrolit cair di dalamnya.

Mercedes Atasi Risiko Kebakaran Baterai Lewat Sistem Pendingin Mesin

Untuk mengatasi masalah volatilitas baterai lithium-ion, Mercedes mengintegrasikan baterai langsung ke sistem pendingin mobil. Cairan pendingin mesin dialirkan untuk menjaga suhu baterai tetap ideal, antara 59 hingga 95 derajat Fahrenheit. Solusi ini terbukti efektif dan membuktikan bahwa teknologi lithium-ion bisa diandalkan dalam kondisi suhu otomotif yang ekstrem.

Berkat sistem itu, S400 BlueHybrid tidak hanya aman, tetapi juga menjadi S-Class paling efisien pada zamannya. Konsumsi bahan bakarnya mencapai 19 mpg di kota, 25 mpg di jalan tol, dan 21 mpg untuk kombinasi. Sebagai perbandingan, S550 dengan mesin V8 5,5 liter hanya mencatat 15 mpg kota dan 23 mpg tol.

Mesin V6 Atkinson Dipadukan Motor Listrik 20 HP

Jantung pacu S400 BlueHybrid adalah mesin V6 3,5 liter siklus Atkinson yang didukung motor listrik kecil berkekuatan 20 tenaga kuda dan torsi 118 lb-ft. Motor ini ditempatkan di rumah konverter torsi, di antara mesin dan transmisi otomatis tujuh percepatan. Total output sistem mencapai 295 hp dan torsi 284 lb-ft, cukup untuk melesat dari 0–60 mph dalam 7,1 detik dan top speed 155 mph yang dibatasi elektronik.

Saat deselerasi—ketika pengereman atau meluncur—mesin bensin berhenti bekerja di bawah kecepatan 9 mph. Motor listrik 15 kW berubah fungsi menjadi generator untuk memulihkan energi yang hilang. Energi itu disimpan ke baterai lithium-ion 120 volt dan digunakan kembali untuk membantu akselerasi atau menyuplai sistem kelistrikan mobil melalui transformator 12 volt.

Hanya Dua Mobil Listrik yang Lebih Dulu Pakai Lithium-ion

Sebelum S400 BlueHybrid, hanya ada dua kendaraan listrik murni yang menggunakan baterai lithium-ion. Pertama adalah Nissan Altra EV pada 1998, sekitar enam tahun setelah Sony mengkomersialkan baterai lithium-ion isi ulang pada 1991. Namun, produksi Altra EV sangat terbatas—hanya 200 unit—dan tidak dijual ke publik, melainkan disewakan ke perusahaan komersial dan utilitas.

Kendaraan kedua adalah Tesla Roadster generasi pertama yang lahir sekitar satu dekade setelah Nissan Altra EV. Meski sama-sama memakai lithium-ion, Tesla Roadster dan Nissan Altra EV adalah mobil listrik murni, bukan hybrid. S400 BlueHybrid-lah yang pertama membuktikan bahwa teknologi baterai ini bisa bekerja dalam sistem hybrid dan layak diproduksi massal.

Kini, baterai lithium-ion sudah menjadi standar di hampir semua mobil hybrid dan listrik yang beredar di jalanan Indonesia dan dunia. Namun, perjalanan panjangnya dimulai dari langkah berani Mercedes-Benz pada 2009—sebuah keputusan yang kini kita anggap biasa saja.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: jalopnik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top