KALIMANTAN UTARA — Premier League memang tidak pernah lepas dari sorotan wasit. Keputusan demi keputusan datang silih berganti, kesalahan terjadi karena manusia memang bisa keliru. Persoalannya, sepak bola sebagai industri yang sangat profesional kini kecanduan menyelesaikan masalah dengan masalah baru.
Interpretasi adalah bagian tanggung jawab wasit dalam menerapkan Laws of the Game, tapi bahasa teknis jadi alat utama yang dipakai untuk membela diri. Aturan hitung mundur yang diwajibkan kepada wasit adalah contoh terbaru betapa rumitnya sepak bola modern.
Aturan Hitung Mundur Bola Mati yang Bikin Wasit Terlihat Sibuk Sendiri
Wasit kini diminta menghitung mundur secara manual, tidak hanya untuk kiper melepas bola dari tangan saat permainan berjalan, tapi juga untuk lemparan ke dalam dan tendangan gawang. Mereka mengangkat jari sambil meneriakkan angka ke seluruh penjuru lapangan.
Niatnya mulia: menekan waktu buang yang selama ini menjengkelkan. Tapi praktiknya kacau. Ketika interpretasi wasit berbenturan dengan ekspektasi fans, pemain, dan manajer yang mengira akan mendapat presisi, hasilnya selalu jadi bahan keluhan baru.
Waktu buang memang mengganggu. Itu hampir jadi satu-satunya konsensus yang benar-benar dimiliki sepak bola, meski tetap berbeda ketika tim kita sendiri yang melakukannya. Sebagian keterlambatan juga lahir dari VAR, dan itu tidak bisa diabaikan.
Di Liga Non-Liga, Gestur Ini Bukan Cuma Lucu tapi Memalukan
Yang sering hilang dalam hiruk-pikuk diskursus Premier League adalah fakta bahwa sepak bola itu permainan global yang luas dan dalam. Gestur baru ini terlihat agak konyol di level atas; di liga non-liga, itu memalukan.
Di lapisan bawah piramida, Sabtu sore kini terseret ke dalam kerumitan yang sama berulang-ulang. Fans dan manajer melambaikan tangan, menepuk pergelangan tangan, partisan tapi juga tidak sadar bahwa hitung mundur dipicu oleh interpretasi wasit soal kebutuhan.
Pemain memilih tidak mengambil bola untuk lemparan ke dalam, lalu kehilangan kesabaran ketika hitung mundur dimulai sebelum bola ada di tangan mereka. Lemparan jauh dikecualikan sampai batas tertentu, diperlakukan seperti set piece lain di mana pengambil bola dan beberapa bek bertubuh besar perlu mengambil posisi.
Solusi yang Sudah Ada Sebelumnya Justru Diabaikan
Hitung mundur ini tidak hanya tidak elegan. Ia sama tidak presisinya dan sama rentan terhadap kelemahan yang sudah dimiliki alat anti waktu buang sebelumnya. Tidak berlebihan menyebut wasit yang menghitung variasi lima, delapan, dan sepuluh detik dengan jari mereka terburu-buru dimasukkan ke sepak bola sebagai reaksi berlebihan.
Wasit masih diarahkan untuk menilai kapan hitung mundur dimulai berdasarkan pertimbangan mereka sendiri. Seseorang bisa berargumen bahwa olahraga serius seharusnya cukup memulai penindakan tegas menggunakan hukum yang sudah ada.
Aturan baru ini menciptakan kekacauan berupa ketidaktahuan, kemarahan, dan kerewelan yang tidak menyelesaikan apa pun. Waktu buang tetap jadi masalah, wasit tetap jadi sasaran, dan sepak bola kembali terjebak dalam lingkaran aturan yang saling mengikat simpul.