KALIMANTAN UTARA — Kegagalan Nice mengalahkan Metz di kandang sendiri pada laga pamungkas Ligue 1 menjadi puncak kemarahan para pendukung. Metz datang dengan rekor tanpa kemenangan di bawah pelatih Benoit Tavenot yang baru meraih tiga kemenangan sepanjang musim — semuanya sebelum Januari. Namun Nice, yang sejak 29 Oktober lalu belum pernah menang di kandang, kembali tampil tanpa daya.
Suporter Serbu Lapangan, Pemain Lari ke Lorong
Ketegangan sudah terasa sejak sebelum kick-off. Spanduk bertuliskan "Get your arses into gear" menghiasi tribun, sementara koreografi besar untuk kapten Dante yang berusia 42 tahun menjadi satu-satunya momen perayaan. Namun atmosfer berubah drastis saat babak pertama berakhir. Kelompok suporter (ultras) turun dari tribun kedua ke tribun pertama, pertanda jelas bahwa kemarahan akan segera meledak.
Saat peluit panjang berbunyi, mereka langsung menyerbu lapangan. Para pemain dan staf pelatih terpaksa berlari masuk ke lorong stadion. Ini kedua kalinya musim ini pemain Nice diserang pendukung sendiri — sebelumnya Terem Moffi dan Jérémie Boga menjadi sasaran setelah bus tim dicegat di luar pusat latihan pada November lalu.
Kegagalan Proyek Ineos: Dari Fase Grup Liga Champions ke Play-off Degradasi
Nice memulai musim dengan ambisi besar: lolos ke Liga Champions setelah finis kelima di Ligue 1 musim lalu. Namun kini mereka harus menjalani play-off melawan Saint-Étienne — tim yang terdegradasi dari Ligue 1 musim lalu. Ironisnya, dua pertandingan ini akan berlangsung di sela-sela persiapan final Coupe de France melawan Lens di Stade de France pada Jumat (24/5).
Co-presiden Jean-Pierre Rivère terus terang mengatakan final Piala "bukan lagi prioritas" setelah hasil imbang ini. Situasi mengingatkan pada Reims musim lalu yang kalah di final Coupe de France dari PSG, lalu kalah di play-off degradasi dari Metz. Kiper Yehvann Diouf, yang menjalani tiga laga itu bersama Reims, kini berada di kubu Nice — dan berharap sejarah tak berulang.
Keputusan Transfer dan Pergantian Pelatih yang Bencana
Masalah Nice bukan hanya di lapangan. Keputusan Ineos untuk memotong anggaran — dengan fokus pada Manchester United — membuat klub kehilangan pemain kunci seperti Evann Guessand dan Marcin Bulka. Pengganti mereka, Kevin Carlos, belum mencetak satu pun gol liga musim ini. Mahdi Camara bahkan menolak pindah ke Nice dan memilih Rennes.
Franck Haise, pelatih di awal musim, sudah mengeluh pada musim gugur bahwa ia tidak punya cukup pemain untuk bersaing ke Eropa. Setelah Haise pergi pada Desember, Claude Puel ditunjuk. Hasilnya: hanya dua kemenangan dalam 18 pertandingan liga. Taktik dan pemilihan pemain Puel menuai kritik pedas, namun akar masalahnya lebih dalam — manajemen klub yang kacau.
Play-off Penentu Nasib: Saint-Étienne Menunggu
Nice akan menjalani leg pertama play-off degradasi melawan Saint-Étienne pada 30 Mei, lalu leg kedua pada 2 Juni. Jika kalah, mereka akan terdegradasi ke Ligue 2 — sebuah skenario yang tak terbayangkan saat mereka memulai musim di kualifikasi Liga Champions. Ineos, yang membeli klub seharga €100 juta pada 2019 dengan ambisi menantang PSG, kini dikabarkan sedang mencari pembeli. Para suporter yakin: jika mereka pergi, kehancuran yang ditinggalkan akan sangat dalam.