TANJUNG SELOR — Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Bulungan Octavianoor menyebut proses hibah lahan dari Pemkab Malinau masih berjalan. Pihaknya berharap pembangunan gudang bisa terealisasi pada tahun ini.
Gudang berkapasitas 1.000 ton itu nantinya berfungsi menyimpan, mengelola, dan mendistribusikan cadangan pangan nasional. Fungsinya sama dengan Gudang Bulog Bulungan yang selama ini dipakai menstabilkan harga pasar.
Selama ini, setiap kali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) atau menyalurkan bantuan bencana ke Malinau, Bulog harus menarik stok dari gudang di Bulungan. Jarak antarwilayah membuat biaya angkut membengkak.
"Kami apabila mengadakan GPM atau semacam droping komoditi ke Malinau itu terkendala dengan diongkos angkut," kata Octavianoor di Tanjung Selor, Kamis.
Dengan gudang baru, ongkos angkut berkurang dan distribusi lebih cepat. Dampaknya, harga komoditi yang berlaku di Bulungan diharapkan sama dengan di Malinau.
Selain untuk distribusi, gudang di Malinau akan dipakai menyerap hasil pertanian warga sekitar. Bulog menyatakan akan memprioritaskan pengadaan gabah dan jagung begitu gudang berdiri.
"Jadi kalau gudang itu berdiri, nanti kami akan berfokus untuk pengadaan semacam kayak jagung dan gabah, itu akan kami serap," ujarnya.
Penyerapan hasil panen dinilai akan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat Malinau. Petani tak lagi kesulitan menjual hasil panen ke luar daerah.
Perwakilan Kelompok Tani Baguyo Kabupaten Malinau, Rahman, menyambut baik rencana pembangunan gudang tersebut. Menurut dia, pembelian gabah petani selama ini butuh proses yang lebih lancar.
"Harapan kami, kalau ada pembelian gabah hasil panen, prosesnya bisa lebih lancar. Kami ini membutuhkan uang untuk keluarga, bukan hanya gabah," kata Rahman.
Petani berharap hasil panen bisa segera terjual sehingga uangnya dapat dipakai memenuhi kebutuhan keluarga. Rencana Bulog membangun gudang di Malinau menjadi angin segar bagi petani yang selama ini bergantung pada pengepul.