Harga Minyak Dunia US$116 per Barel, Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi

Penulis: Panji Pratama  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:53:01 WIB
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan harga BBM bersubsidi ditahan meski minyak dunia berada di kisaran US$115–116 per barel.

KALIMANTAN UTARA — Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan harga sejumlah barang bersubsidi, termasuk BBM, tetap ditahan meski minyak dunia melonjak ke US$115–116 per barel. Kebijakan penahanan harga ditempuh lewat APBN untuk meredam gejolak global agar tidak merambat ke aktivitas ekonomi dalam negeri. Pemerintah menegaskan defisit anggaran tetap dijaga di bawah 3% PDB.

Kebijakan penahanan harga produk bersubsidi disampaikan Suahasil dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum, Senin (27/10/2026). Forum tersebut membahas prospek ekonomi nasional di tengah tekanan harga energi global yang masih tinggi.

Menurut Suahasil, APBN tidak hanya berfungsi mendorong pertumbuhan, tetapi juga menjaga stabilitas saat kondisi global mengalami turbulensi. Pemerintah berupaya mencegah gejolak eksternal merambat terlalu besar ke aktivitas ekonomi dalam negeri.

Beban Subsidi Bertambah Saat Minyak Naik

Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperbesar tekanan terhadap anggaran. Biaya yang ditanggung negara untuk mendukung konsumsi energi bersubsidi ikut bertambah bila harga di dalam negeri dipertahankan.

Suahasil menegaskan pemerintah harus menjaga keseimbangan antara perlindungan daya beli masyarakat dan keberlanjutan anggaran. Pengelolaan fiskal dituntut lebih hati-hati agar belanja negara tetap terkendali.

“Harga minyak hari-hari ini udah 115–116 dolar, tapi sejumlah produk barang bersubsidi di dalam negeri tetap kita tahan,” ujar Suahasil dalam acara tersebut.

Defisit Anggaran Dijaga di Bawah 3% PDB

Pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap produk domestik bruto. Batas itu disebut sebagai rambu agar APBN tetap sehat dan kredibel di tengah tekanan eksternal.

“Tidak boleh defisit yang tidak terukur. Karena itu, komitmen kami kepada defisit anggaran di bawah 3% menjadi sesuatu yang terus kami gaungkan,” tegasnya.

Suahasil menambahkan, APBN tidak hanya bertugas mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas, tetapi juga harus tetap kredibel. Ketiga fungsi itu dijalankan bersamaan saat harga energi global sedang tinggi.

Dua Kepentingan yang Harus Dijaga Bersamaan

Pemerintah menghadapi dua kepentingan sekaligus. Di satu sisi meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap masyarakat, di sisi lain menjaga kesehatan keuangan negara agar tetap mampu menopang perekonomian.

Dengan harga minyak yang masih di kisaran US$115–116 per barel, tantangannya bukan sekadar menahan harga barang bersubsidi. Belanja negara juga harus tetap terkendali tanpa mengurangi kemampuan APBN menopang aktivitas ekonomi masyarakat.

Keputusan menahan harga produk bersubsidi berlaku di tengah lonjakan minyak dunia, dengan konsekuensi fiskal yang harus dikelola secara terukur. Pemerintah memilih jalur itu ketimbang membiarkan harga domestik mengikuti pergerakan global.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: wartaekonomi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top